Ketegangan telah meningkat bahkan sebelum pertemuan perdana tersebut digelar. Ketua IG Metall Christiane Benner melabeli dorongan CEO untuk memangkas biaya dan mendongkrak margin hingga 9% sebagai hal yang "tidak realistis." Seorang pemimpin serikat pekerja lokal pada Senin bahkan memperingatkan bahwa kelompoknya siap mempertimbangkan aksi mogok kerja jika Blume tidak menarik kembali rencananya.
Namun, manajer berusia 58 tahun tersebut telah menjadikan perombakan ini sebagai ujian penentu dalam masa jabatannya. Ia ingin menekan biaya dan merombak Volkswagen agar mampu bertahan di industri yang tengah diguncang mobilitas listrik, teknologi perangkat lunak, serta persaingan ketat dari para rival asal China. Kendati demikian, struktur tata kelola khusus di produsen otomotif ini membuat Blume tidak bisa serta-merta memerintahkan pemangkasan secara sepihak; ia harus merangkul para pemimpin serikat pekerja yang berpengaruh dan Pemerintah Negara Bagian Lower Saxony yang memiliki hak veto atas sejumlah keputusan strategis.
"Ada banyak pihak yang menentang, banyak pihak penyimpan hak veto, dan sangat sedikit dukungan," ungkap Wolfgang Schroeder, profesor ilmu politik di Kassel University yang mengamati hubungan ketenagakerjaan Jerman dan Volkswagen.
Tekanan juga datang dari jajaran atas. Porsche SE, perusahaan induk milik keluarga konglomerat Porsche-Piëch yang mengendalikan Volkswagen, mendesak manajemen untuk bergerak lebih cepat sembari memperingatkan bahwa VW berada di "persimpangan jalan bersejarah." Dinasti tersebut memiliki alasan mendesak tersendiri: menyusutnya laba di Volkswagen dan produsen mobil sport Porsche AG kian menggerus deviden yang selama ini menjadi tumpuan mereka.
Pendapatan Volkswagen terus tergerus oleh penurunan penjualan di China, tingginya pengeluaran operasional di Jerman, serta pabrik-pabrik yang beroperasi di bawah kapasitas optimal. Kondisi tersebut membuat perusahaan menanggung ketertinggalan efisiensi biaya hingga 30% dibandingkan sejumlah pesaingnya, dengan setidaknya €10 miliar biaya overhead yang harus segera dipangkas.
Pihak manajemen kini sedang menyusun rencana untuk memangkas kapasitas produksi tahunan di Eropa hingga 500.000 unit kendaraan, menyederhanakan jajaran manajerial, serta mengurangi jumlah varian model dan kelengkapan fitur.
Pekan ini, Blume membawa langsung argumennya ke lini produksi: saat ia dan Schäfer hadir di Wolfsburg, para eksekutif senior termasuk Chief Financial Officer Arno Antlitz disebar ke seluruh pabrik Volkswagen di Jerman untuk meyakinkan pekerja bahwa pemangkasan yang lebih dalam tidak lagi dapat dihindari.
Para pekerja sebelumnya telah menyetujui pengurangan puluhan ribu posisi, hanya untuk kemudian diberitahu kembali bahwa tindakan susulan masih diperlukan. Para pemimpin serikat menegaskan bahwa karyawan diminta menanggung akibat dari kesalahan strategis bertahun-tahun terkait pengembangan perangkat lunak, kendaraan listrik (EV), dan pasar China. Manajemen harus memberikan kepastian prospek kerja masa depan bagi para karyawan di seluruh pabrik di Jerman, tegas pejabat tinggi serikat pekerja perusahaan Daniela Cavallo pada Senin malam di Hanover.
Pihak serikat pekerja memperingatkan bahwa hingga 140.000 lapangan kerja berada dalam ancaman. Kalkulasi tersebut mencakup sekitar 50.000 pemangkasan yang telah disetujui sebelumnya di Jerman, 50.000 posisi tambahan yang diindikasikan manajemen berpotensi dibutuhkan secara global, serta sekitar 40.000 pekerjaan di empat pabrik Jerman yang masa depan jangka panjangnya masih dibayangi ketidakpastian.
Blume naik ke kursi kepemimpinan antara lain karena dianggap sebagai sosok kompromistis yang mampu menavigasi berbagai pusat kekuatan yang saling bersaing di Volkswagen. Kini, masa depannya mungkin bergantung pada kemampuannya meyakinkan mereka untuk menerima keputusan yang sebelumnya telah mereka nyatakan akan ditentang.
CEO tersebut menghadapi “tugas yang sangat berat,” kata Ingo Speich, Kepala Keberlanjutan dan Tata Kelola Perusahaan di Deka Investment.
(bbn)































