Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam Iran dan mitra dagangnya setelah berbulan-bulan serangan militer dan blokade maritim gagal memaksa Teheran menyerah. China merupakan pembeli terbesar minyak Iran dan menjadi mitra dagang terbesar kedua Iran pada 2025 setelah Uni Emirat Arab, yang mengatakan telah memutus seluruh hubungan ekonomi dengan Teheran setelah menuduh Iran meluncurkan rudal balistik ke wilayahnya.
Beijing merespons pernyataan Trump dengan mengatakan sanksi dan tekanan tidak akan menyelesaikan masalah serta menyerukan penyelesaian melalui jalur diplomatik. Iran menyebut ancaman Trump sebagai “pengalihan perhatian” dari krisis Amerika berupa utang yang belum pernah terjadi sebelumnya dan melonjaknya biaya bunga.
Ketika ditanya mengenai ancaman sanksi tersebut dalam konferensi pers di Beijing pada Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan langkah tersebut tidak akan membantu menyelesaikan masalah dan kedua pihak harus berdialog.
Lin mengatakan negaranya akan “mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingan sahnya.”
Langkah Trump untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap China terkait Iran dapat semakin memperburuk hubungan bilateral, hanya beberapa pekan sebelum rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington.
Perang tersebut secara tidak langsung berdampak pada pertemuan tingkat tinggi itu, kata Wu Xinbo, direktur Center for American Studies di Fudan University dan mantan penasihat Kementerian Luar Negeri China. Menurutnya, persiapan pertemuan tidak berjalan selancar yang diharapkan China.
“Saya pikir persiapannya terlalu banyak terganggu oleh masalah Iran,” kata Wu.
Pernyataan Kementerian Luar Negeri China yang dirilis Minggu menyebut Gharibabadi memberikan informasi kepada pejabat China mengenai perkembangan di Teluk dan menyampaikan posisi Iran. Ia mengatakan Teheran “bersedia melanjutkan penyelesaian masalah melalui negosiasi diplomatik”, tetapi Iran akan bertindak “tegas” dalam mempertahankan kedaulatan dan kepentingan keamanannya.
“Iran berharap dapat memperdalam kerja sama dengan China di berbagai bidang dan meningkatkan hubungan bilateral,” kata Gharibabadi dalam pernyataan tersebut. “Iran menghargai upaya China dalam menjunjung keadilan dan kesetaraan serta berharap China memainkan peran lebih besar dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.”
China tidak mengakui sanksi sepihak, tetapi perusahaan-perusahaan milik negara umumnya menghindari minyak yang masuk daftar hitam. Bank-bank terbesar China juga memiliki rekam jejak mematuhi sanksi AS terhadap Iran, Korea Utara, dan bahkan pejabat tinggi di Hong Kong untuk menghindari kehilangan akses ke sistem kliring dolar AS.
Washington telah menjatuhkan sanksi kepada sejumlah kilang teapot dan perusahaan China sejak AS memulai perang terhadap Iran pada akhir Februari. Namun, hingga kini Washington belum menargetkan bank-bank besar China yang membiayai perdagangan tersebut.
Pada Mei, China memerintahkan perusahaan domestik untuk tidak mematuhi sanksi AS terhadap lima kilang. Pada saat yang sama, bank-bank terbesar China berada di antara arahan Beijing dan risiko kehilangan akses ke sistem keuangan AS.
(bbn)





























