Pezeshkian, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dan kepala negosiator utama Mohammad Bagher Ghalibaf secara terbuka mendorong penghentian perang melalui jalur diplomasi serta memprioritaskan pemulihan ekonomi sejak penandatanganan kesepakatan gencatan senjata yang kini telah runtuh.
Pernyataannya muncul di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara Menteri Keuangan AS Scott Bessent diperkirakan bakal membeberkan rencana untuk mengisolasi Iran dan para mitra dagangnya secara ekonomi.
Kebuntuan konflik ini kian memperparah inflasi di Iran dan menyeret nilai tukar mata uang negara tersebut ke rekor terendah terhadap dolar.
Sebaliknya, pejabat Iran lainnya—termasuk beberapa di jajaran elite kepemimpinan militer yang berpengaruh—berargumen bahwa Iran sedang berada di atas angin dan harus melanjutkan pertempuran yang dimulai pada akhir Februari lalu ketika AS dan Israel melancarkan kampanye pengeboman mereka.
Korp Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran sendiri telah bergeser ke "doktrin ofensif", disertai beberapa penunjukan pejabat militer baru yang ditujukan untuk menopang pertempuran di "wilayah musuh", ungkap seorang pejabat senior pada pekan lalu.
(bbn)
































