Logo Bloomberg Technoz

Langkah untuk memangkas latihan militer ini dilakukan ketika Washington sedang meningkatkan upaya untuk menjalin hubungan dengan Pyongyang. Trump sedang mendorong terwujudnya pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin Korut Kim Jong Un paling cepat pada musim gugur ini selama kunjungan presiden berikutnya ke Asia, menurut laporan Wall Street Journal yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Trump diperkirakan akan bergabung dengan para pemimpin dunia lainnya di kota Shenzhen, China selatan, pada bulan November mendatang untuk menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC).

Belum jelas sejauh mana Korsel, sekutu lama AS, dilibatkan dalam upaya pendekatan yang dilaporkan tersebut. Trump terus meningkatkan tekanan terhadap Seoul terkait isu perdagangan dan keamanan, bahkan saat ia menggambarkan Kim sebagai "teman baiknya." Meskipun Seoul mendukung gagasan keterlibatan Washington dengan Pyongyang, sindiran Trump bahwa langkah memangkas latihan militer dipicu oleh kurangnya dukungan Seoul terhadap perang Iran dapat mengikis kepercayaan dalam hubungan bilateral kedua negara.

"Pengurangan latihan militer bersama sebagai sarana untuk memajukan perdamaian Korea dapat diterima oleh kelompok progresif Korea Selatan," ujar Andrew Yeo, senior fellow di Brookings Institution. "Namun, mengaitkan kurangnya dukungan Korea Selatan terhadap upaya AS di Iran dengan pengurangan latihan militer kembali menimbulkan kekhawatiran mengenai kredibilitas dan komitmen AS terhadap aliansi AS-Korsel."

Korsel sebelumnya menyatakan harapannya bahwa pendekatan Trump dapat membuka jalan bagi keterlibatan kembali dengan Korea Utara. Trump dan Kim pernah bertemu tiga kali selama masa jabatan pertama pemimpin AS tersebut, tetapi pembicaraan itu gagal meredam ambisi nuklir Korut

Pyongyang kini tampaknya memiliki insentif yang lebih kecil untuk segera berdialog dengan Washington mengenai program nuklir utamanya, setelah muncul sebagai sekutu kunci Rusia dalam perang Vladimir Putin melawan Ukraina.

Sebagai sinyal potensial adanya diplomasi jalur belakang, Menteri Luar Negeri China Wang Yi akan melakukan kunjungan pertamanya ke Seoul dalam hampir lima tahun pekan ini untuk membahas Korut dan isu-isu global lainnya.

"Bagi para sekutu, mereka sudah terbiasa dengan ketidakjelasan sikap Trump. Mereka menggertakkan gigi dan menahannya, mencoba memanfaatkan situasi sebaik mungkin. Korea Selatan mungkin akan mengikuti saja," kata Victor Cha, Korea Chair di Center for Strategic and International Studies.

"Lee mungkin tidak menyukai kenyataan bahwa ia tidak dikonsultasikan mengenai keputusan Trump, tetapi jika hal itu mengarah pada dimulainya kembali pertemuan puncak antara Trump dan Kim, itu sangat sesuai dengan kepentingan dan tujuan pemerintah Lee," ujar Cha.

(bbn)

No more pages