Logo Bloomberg Technoz

Karena keputusan tersebut sudah cukup diantisipasi, fokus pasar diperkirakan bergeser pada forward guidance BI terkait ruang pemangkasan suku bunga berikutnya, stabilitas rupiah, serta respons terhadap tekanan inflasi global akibat kenaikan harga minyak.

Selain keputusan BI, pasar juga mendapat penopang dari respons positif terhadap paparan pidato Nota Keuangan RAPBN 2027. Target pertumbuhan ekonomi hingga 6% serta peningkatan target investasi dinilai memberikan buffering bagi pergerakan saham-saham blue chip.

Dari global, ketidakpastian hubungan AS-Iran dan risiko terkait Selat Hormuz mendorong harga Brent sempat menembus USD92 per barel, sedangkan WTI menyentuh USD85 per barel. Kenaikan harga minyak dunia kembali meningkatkan tekanan inflasi dan berpotensi menahan ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed.

Kondisi tersebut diperkuat oleh kenaikan yield Treasury tenor panjang. Yield Treasury 30 tahun sempat menembus 5,33%, level tertinggi dalam 19 tahun, seiring kekhawatiran terhadap inflasi jangka panjang.

“Kombinasi higher-for-longer yields dan kenaikan harga energi meningkatkan kembali kekhawatiran inflasi serta menekan ekspektasi pelonggaran moneter The Fed. Meskipun demikian, di sisi lain memberi dampak positif bagi saham-saham sektor energi dan komoditas,” jelas Nafan.

Pelaku pasar juga menanti rilis risalah rapat The Fed bulan Juli. Perbedaan pandangan di antara tiga pejabat The Fed yang menginginkan kenaikan suku bunga 25 basis poin menjadi salah satu perhatian pasar, terutama setelah data inflasi dan tenaga kerja sebelumnya mulai menunjukkan pelonggaran.

Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada September berada di sekitar 65,4%, sedangkan peluang kenaikan 25 basis poin mencapai 34,6%.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak sideways setelah indeks ditutup menguat 0,75% ke level 6.449,83 pada Selasa (18/8). Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas MA20 meski ditutup dengan gap up, sementara histogram MACD cenderung mendatar dan Stochastic RSI berada di area pivot.

“Dengan demikian, IHSG diperkirakan akan bergerak sideways di kisaran 6.400–6.500,” jelas Phintraco Sekuritas dalam risetnya.

Selain teknikal, investor juga akan mencermati rilis pertumbuhan kredit Juli 2026 yang diperkirakan meningkat menjadi 13% secara tahunan dari 12,67% pada Juni 2026. Di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai USD454,4 miliar pada kuartal II-2026, tumbuh 4,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan meningkat dari USD433,4 miliar pada kuartal I-2026. Kenaikan tersebut berasal dari peningkatan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral.

Rasio ULN terhadap PDB tercatat 30,6% pada kuartal II-2026, dengan ULN jangka panjang mencapai 82,1% dari total ULN. Phintraco menilai kenaikan ULN menjadi sentimen negatif, meski rasio ULN terhadap PDB masih relatif terkendali.

(dhf)

No more pages