Logo Bloomberg Technoz

“Tolong percepat upaya tersebut,” katanya pada hari Selasa, dalam rapat kabinet yang disiarkan langsung. “Semakin kuat kita secara mandiri, semakin besar nilai dan pentingnya aliansi ini,” tambahnya.

Meningkatnya ketegangan antara kedua sekutu ini terjadi di tengah keluhan di Washington bahwa Seoul lamban dalam merealisasikan janji investasinya senilai US$350 miliar, serta sebuah laporan media yang menyebutkan bahwa AS kini ingin raksasa chip Korea Selatan turut terlibat dalam paket tersebut.

Menempatkan pabrik tambahan SK Hynix atau Samsung di wilayah Amerika dapat mengganggu rencana Lee membangun lebih banyak pusat di dalam negeri guna membantu menyebarkan manfaat AI kepada lebih banyak masyarakat.

Perselisihan ini menempatkan pemerintahan Lee dalam posisi yang sulit, karena para pejabat harus mempertimbangkan keputusan-keputusan perdagangan tertentu di satu sisi dan kepentingan keamanan di sisi lain—sebuah bidang di mana Seoul sangat bergantung pada payung nuklir AS sebagai perlindungan terhadap persenjataan nuklir Kim Jong Un yang terus berkembang.

“Korsel bisa saja tidak memiliki peran yang cukup dalam proses diplomatik potensial yang memengaruhi keamanan dan kemakmurannya,” kata Mason Richey, profesor di Hankuk University of Foreign Studies, merujuk pada pembicaraan antara Trump dan Kim Jong Un tanpa konsultasi dengan Lee. “Hal ini akan mengikis keyakinan masyarakat Korsel secara luas terhadap keandalan AS sebagai sekutu, setidaknya di bawah kepemimpinan Trump.”

Lee Jae Myung. (Tina Hsu/Bloomberg)

Trump mendesak para penasihatnya mengadakan pertemuan dengan pimpinan tertinggi Korut tersebut secepatnya pada musim gugur ini selama lawatannya berikutnya ke Asia, demikian dilaporkan Wall Street Journal mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Trump diperkirakan akan berkumpul dengan para pemimpin dunia di kota Shenzhen, Tiongkok selatan, pada bulan November untuk KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC).

Pemimpin Korut Kim Jong Un dan Donald Trump. (Dok: Dong-A Ilbo/Getty Images)

Pemimpin AS tersebut berusaha bertemu Kim selama lawatannya ke Asia tahun lalu dan Pyongyang secara senyap menunjukkan keterbukaannya, namun waktunya terlalu mepet, demikian dilaporkan WSJ mengutip pejabat AS.

Sebagai tanda potensial diplomasi di belakang layar, Korsel mengumumkan pada hari Selasa bahwa Menteri Luar Negeri China Wang Yi akan melakukan kunjungan pertamanya ke Seoul dalam hampir lima tahun ini pada pekan ini untuk membahas Korut dan isu-isu global lainnya.

Trump mengadakan pertemuan dengan Kim Jong Un sebanyak tiga kali selama masa kepresidenan pertamanya, akan tetapi langkah tersebut gagal meyakinkan pemimpin Korut itu untuk meninggalkan ambisi nuklirnya.

Sejak saat itu, Kim Jong Un muncul sebagai mitra kunci Presiden Rusia Vladimir Putin dan menyatakan bahwa ia hanya akan kembali ke dialog semacam itu jika Washington secara resmi mengakui Pyongyang sebagai negara adidaya nuklir permanen.

Donald Trump dan Kim Jong Un di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ). (Via Bloomberg)

Kim Jong Un memiliki jauh lebih sedikit alasan untuk berinteraksi dengan Trump kali ini. Menurut Bloomberg Economics, rezim Korut telah berhasil mengatasi sanksi PBB dan meraup pendapatan asing US$22 miliar antara tahun 2022 dan 2025, yang berarti ia memiliki sedikit insentif untuk bernegosiasi dengan AS mengenai senjata pencegah nuklir yang sangat ia hargai.

Lee secara terbuka telah meminta presiden AS untuk berperan sebagai penengah dalam membawa Korut kembali ke meja perundingan, sejalan upayanya meredakan ketegangan dengan negara tetangga yang semakin kuat.

Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah Seoul telah diberi tahu mengenai interaksi AS dengan Pyongyang yang dilaporkan baru-baru ini, atau rencana untuk mengurangi skala latihan bersama.

Bagi Lee, setiap serangan terbuka membawa risiko politik. Diplomasi telah menjadi bidang di mana pemimpin Korsel ini mendapat pujian di dalam negeri, meskipun tingkat persetujuannya secara keseluruhan merosot di tengah frustrasi yang memuncak akibat melonjaknya biaya perumahan. Kini, pihak oposisi menuduh pemerintahannya mengalami “bencana diplomatik.”

“Pemimpun Korut akan semakin mengakar, sementara aliansi AS-Korea Selatan akan runtuh. Dengan Presiden Trump yang seperti sekarang ini, ia bahkan mungkin akan mendesak penarikan pasukan AS dari Korea Selatan,” jelas kata Jang Dong-hyuk, ketua Partai Kekuatan Rakyat, partai oposisi utama.

Keputusan pemimpin AS untuk mengurangi latihan gabungan itu muncul saat satu-satunya kapal induk AS di kawasan Asia-Pasifik, USS George Washington, dialihkan ke Timur Tengah, yang menegaskan betapa kekuatan militer AS sedang tertekan oleh operasi yang sedang berlangsung di Iran.

Lee menghindari komentar langsung mengenai pernyataan Trump baru-baru ini, tetapi mengatakan bahwa latihan militer Korsel tidak bertujuan untuk meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea atau menyerang Korut.

Dirinya juga menyerukan upaya untuk menyelesaikan penyerahan kendali operasional masa perang kepada Korsel sebelum akhir masa jabatannya yang lima tahun.

Selama masa jabatan pertamanya, Trump juga menghentikan latihan bersama dengan Seoul saat berusaha mendekati Kim, dan meremehkan dampak dari keputusan tersebut. Namun, pada bulan Desember, komandan tertinggi AS di Semenanjung Korea mengatakan bahwa latihan rutin antara kedua sekutu itu “sangat” diperlukan untuk menjaga perdamaian dan memberikan tekanan kepada Korea Utara.

“Setiap kali ada yang membicarakan — siapa pun orangnya — tentang mengurangi frekuensi latihan atau mengubah cara berlatih, mereka perlu memahami bahwa ada dua periode dalam setahun di mana kita benar-benar membutuhkan dukungan,” kata Jenderal Xavier Brunson, komandan pasukan AS di Korea Selatan, pada saat itu. AS dan Korea Selatan secara tradisional menggelar dua latihan besar setiap tahun: satu pada musim semi dan satu lagi pada musim panas.

(bbn)

No more pages