Logo Bloomberg Technoz

Terancam Punah dan Habitat Menyempit

Namun, pesona sang maskot kini diselimuti kabut duka. Maleo saat ini berada di status critically endangered (sangat terancam punah). Keberadaan Maleo di bentang alam liar memicu keprihatinan mendalam.

Corporate Social Responsibility (CSR) Supervisor DSLNG Berkatdo Saragih menjelaskan populasi Maleo di alam liar saat ini berada pada kondisi yang sangat memprihatinkan.

Berkatdo menyampaikan hal tersebut kepada para jurnalis dalam agenda kunjungan media ke pusat konservasi Maleo yang dikembangkan DSLNG di Banggai, Sulawesi Tengah, Senin (17/8/2026).

"Berdasarkan asesmen pada 2021, diperkirakan hanya tersisa sekitar 7.000 pasang atau 14.000 individu Maleo di seluruh dunia," ungkap Berkatdo kepada para awak media.

Wilayah persebaran Maleo kini kian menyempit. Habitatnya hanya tersisa di Sulawesi Tengah dan sebagian kecil wilayah Sulawesi Utara.

Ancaman utama keberlangsungan hidup Maleo tidak hanya bersumber dari hilangnya habitat asli akibat alih fungsi lahan sejak dekade 1980-an, tetapi juga dari tingginya laju perburuan liar telur Maleo.

Telur Burung Maleo yang ditetaskan di Maleo Conservation Center Donggi-Senoro LNG (DSLNG) (Bloomberg Technoz/Sabrina)

Di sepanjang jalan lintas batas wilayah, telur burung ini kerap diperjualbelikan secara ilegal seharga Rp25.000 hingga Rp50.000 per butir.

Tantangan pelestarian tersebut makin kompleks karena masyarakat lokal memanfaatkan telur Maleo dalam ritual adat tahunan bertajuk "Tumpe" yang telah berlangsung ratusan tahun.

Ritual adat Tumpe merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Batui di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, yang berpusat pada penyerahan telur burung Maleo kepada Lembaga Adat Kerajaan Banggai.

Istilah "Tumpe" berasal dari bahasa lokal yang berarti "awal" atau "pertama", yakni merujuk pada penyerahan hasil pengeraman telur Maleo pertama pada musim bertelur.

Menanggapi kepunahan yang membayangi satwa langka tersebut, DSLNG mengambil langkah konkret melalui komitmen lingkungan dengan membangun  Maleo Conservation Center DSLNG, yang hanya berjarak 1—2 km dari pusat "bongkar muat" LNG di terminal DSLNG.

Berkatdo menceritakan bahwa pendirian Maleo Conservation Center DSLNG merupakan bagian dari pemenuhan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) sebelum perusahaan membangun kilang LNG.

Meskipun groundbreaking proyek LNG Donggi Senoro dimulai pada 2015, fasilitas konservasi Maleo telah didirikan lebih dahulu, yaitu sejak 2013 dengan bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah dan Kementerian Kehutanan. 

Hingga akhirnya, tempat ini mencatatkan sejarah sebagai fasilitas konservasi ex-situ (di luar habitat) Maleo pertama di dunia.

“Pada awal buka, kami hanya konservasi 14, lalu dilepaskan lagi, kami konservasi lagi, begitu terus,” ungkapnya.

“Untuk yang saat ini kami konservasi, 22 ekor,” tambah Berkatdo.

Dia menegaskan pihak pengelola pusat konservasi tidak pernah mengambil satwa maupun telur secara langsung dari alam bebas.

Seluruh satwa dan telur yang berada di fasilitas penangkaran merupakan hasil sitaan pihak BKSDA atau hasil penyerahan secara sukarela oleh masyarakat.

Pusat konservasi ini dilengkapi dengan kandang penangkaran terpisah untuk anakan dan indukan, serta fasilitas pengeraman berbasis teknologi inkubator. 

Maleo Conservation Center di area kilang PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) yang ada di Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. (Bloomberg Technoz/Sabrina)

Teknologi inkubator di fasilitas ini mampu memangkas waktu penetasan telur menjadi sekitar 50 hari dengan tingkat keberhasilan yang terukur, jauh lebih cepat dibandingkan dengan proses pengeraman alami di alam liar yang membutuhkan waktu hingga 87 hari.

Anakan Maleo yang berhasil menetas melalui inkubator tidak dipelihara hingga dewasa.

Setelah berusia satu hingga empat minggu dan berada dalam kondisi sehat, anakan tersebut langsung dilepasliarkan ke habitat aslinya di Suaka Margasatwa Bakiriang.

Di fasilitas konservasi ini, indukan tertua saat ini tercatat berumur sekitar 15—16 tahun.

Berkatdo menambahkan bahwa, berdasarkan hasil penelitian, batas usia maksimal burung Maleo dapat mencapai 22 tahun, dan indukan yang telah berusia lanjut biasanya akan mengalami masa menopause atau berhenti produktif.

Untuk menunjang kelangsungan hidupnya, burung Maleo mengonsumsi pakan utama berupa buah kemiri, biji-bijian, serta pakan konsentrat.

Di alam bebas, satwa ini memanfaatkan jambul dan paruhnya yang kuat untuk memecahkan tempurung kemiri yang keras.

"Sepanjang periode 2015 hingga 2024, kami telah melepaskan 227 ekor Maleo kembali ke alam bebas," tambah Berkatdo.

Maleo Conservation Center di area kilang PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) yang ada di Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. (Bloomberg Technoz/Sabrina)

Terobosan penting lainnya adalah keberhasilan meretas keturunan Filial 1 (F1). Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa indukan hasil penetasan inkubator mampu bertelur dan berkembang biak kembali secara berkelanjutan.

Merawat Satwa Sekaligus Menopang Keluarga

Di balik keberhasilan teknologi inkubator dan ketatnya regulasi konservasi, ada sentuhan dedikasi dari para pekerja lapangan.

Salah satunya adalah Pak Mustar (62), warga lokal Desa Uso, Kecamatan Batui, yang telah setia merawat burung Maleo di pusat konservasi ini sejak 2017.

Merawat burung Maleo bukanlah pekerjaan yang mudah. Sifat liar dan tingkat sensitivitas yang tinggi dari satwa ini menjadi tantangan harian bagi Pak Mustar beserta lima rekan kerjanya.

"Sifat liarnya tidak pernah pudar, masih bawaan asli walau bertahun-tahun kita bergaul. Apabila burung merasa stres, kami harus mengkarantinanya agar tidak memicu penyakit," tutur Pak Mustar.

Selain sifat liarnya, perubahan suhu udara yang ekstrem juga menjadi ancaman nyata yang rentan mengganggu kesehatan anakan Maleo.

Namun, melalui ketelatenan merawat 22 ekor Maleo yang menjadi tanggung jawabnya, Pak Mustar tidak hanya berhasil menjaga kelestarian satwa langka di daerahnya, tetapi juga mampu menopang perekonomian keluarga secara mandiri.

Pekerja lapangan Maleo Conservation Center PT Donggi Senoro LNG, Pak Mustar (62) menjelaskan sistem konservasi Maleo. (Bloomberg Technoz/Sabrina)

Pak Mustar menceritakan bahwa berbekal upah harian sebesar Rp100.000 lebih beserta perlindungan jaminan kesehatan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dari tempatnya bekerja, ia sanggup membiayai pendidikan putri bungsunya hingga mencapai jenjang perguruan tinggi.

"Alhamdulillah, asal kita pintar-pintar manage-nya saja. Dari kerja merawat burung ini, anak tinggal satu yang kuliah dan sudah mau lulus," ucapnya dengan nada bangga.

Kini, Maleo Conservation Center DSLNG telah bertransformasi lebih dari sekadar benteng penyelamatan satwa. Tempat ini telah tumbuh menjadi oase edukasi (eduwisata) yang menghidupkan rasa ingin tahu.

Setiap tahunnya, tak kurang dari 300 pasang mata para pelajar—dari tingkat TK hingga mahasiswa—serta peneliti-pegiat satwa dan tamu internasional dari negara jauh seperti Jepang, Belarus, hingga Latvia, datang untuk menyaksikan langsung pesona satwa unik ini.

Bagi Pak Mustar, para peneliti, dan DSLNG, asa yang ditanam di tempat ini sederhana namun mendalam: memastikan agar kepakan sayap burung Maleo tetap lestari di tanah Sulawesi, bukannya membisu dan terkubur dalam lembaran buku sejarah semata.

"Tentu harapan kita bisa mempertahankan keberadaan burung ini, bahkan menambah populasinya di alam liar. Ini burung langka dan dilindungi, milik kita bersama," tutup Pak Mustar.

(smr/wdh)

No more pages