Peristiwa tersebut langsung memicu perbincangan di kalangan penggemar Apple karena dinilai menunjukkan daya tahan perangkat terbaru perusahaan asal Cupertino, Californina, AS, tersebut.
Meski demikian, sejumlah media menilai ada faktor lain yang ikut menentukan hasil akhir, termasuk permukaan tempat ponsel mendarat.
iDrop News, misalnya, menjelaskan bahwa iPhone kemungkinan jatuh di area ladang yang relatif lunak dan dipenuhi tanaman sehingga mampu meredam benturan. Selain itu, benda pipih seperti smartphone cenderung mengalami hambatan udara yang memperlambat laju jatuh serta mendistribusikan gaya benturan lebih merata ketika menyentuh permukaan tanah.
Meski kisah tersebut mengesankan, satu kejadian tidak dapat dijadikan tolok ukur ketahanan seluruh unit iPhone 17 Pro.
Pada awal peluncurannya, kanal YouTube JerryRigEverything menemukan bahwa perangkat tersebut tetap rentan terhadap goresan dan kerusakan akibat pengujian fisik tertentu.
Dalam uji ketahanan yang dilakukan Zack Nelson, rangka aluminium baru pada iPhone 17 Pro dinilai lebih mudah memperlihatkan bekas gores dibandingkan material titanium yang digunakan generasi sebelumnya, meski perangkat tetap mampu melewati uji tekuk atau bend test.
Artinya, keberhasilan iPhone 17 Pro bertahan setelah jatuh dari pesawat lebih tepat dipandang sebagai kasus yang dipengaruhi kombinasi berbagai faktor, mulai dari orientasi saat jatuh, hambatan udara, hingga jenis permukaan tempat perangkat mendarat.
Pengalaman tersebut tidak serta-merta mencerminkan ketahanan seluruh iPhone 17 Pro dalam kondisi penggunaan sehari-hari, terutama ketika terjatuh di permukaan keras seperti beton atau aspal.
(fik/wep)

































