Untuk mencapai Pulau Kelang, Asti harus terlebih dahulu menempuh perjalanan darat sekitar satu jam dari Unit Piru menuju pelabuhan penyeberangan di Waesala. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan perahu selama kurang lebih satu jam menuju pulau utama.
Perjalanan tidak berhenti di sana. Jika harus mengunjungi kampung-kampung lain yang tersebar di kawasan tersebut, waktu perjalanan dapat bertambah sekitar satu jam lagi. Kondisi ini menjadi bagian dari rutinitas yang harus dijalani demi memastikan masyarakat memperoleh layanan perbankan.
Laut menjadi tantangan tersendiri bagi Asti. Saat musim barat datang, gelombang tinggi kerap terjadi di perairan Waesala hingga Selat Haya sehingga perjalanan membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi.
Membangun Inklusi Keuangan dari Wilayah Terpencil
Motivasi Asti menjalankan tugas tersebut berakar dari pengalaman pribadinya. Ketika masih menempuh pendidikan, ia menyaksikan keluarganya dan masyarakat di pulau mengalami kesulitan memperoleh modal usaha karena akses menuju kantor bank sangat jauh.
Banyak warga harus menempuh perjalanan ke Ambon maupun Masohi untuk mengajukan pembiayaan. Namun, tidak sedikit yang akhirnya pulang tanpa memperoleh akses permodalan akibat berbagai kendala, termasuk faktor geografis.
Di sisi lain, Asti juga melihat masyarakat menjadi korban penipuan berkedok pinjaman. Sejumlah warga diminta membayar uang muka dalam jumlah besar dengan janji memperoleh kredit, tetapi pelaku kemudian menghilang tanpa memberikan pinjaman yang dijanjikan.
"Itu yang jadi motivasi saya. Kasihan orang-orang ini, mereka mampu bekerja tapi mereka ditipu," ujarnya.
Berbekal pengalaman tersebut, Asti memilih membangun fondasi inklusi keuangan melalui edukasi kepada masyarakat. Langkah pertama yang dilakukan bukan menawarkan pembiayaan, melainkan menghadirkan jaringan AgenBRILink agar masyarakat memiliki akses transaksi keuangan lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.
Setelah jaringan transaksi mulai tersedia, Asti secara bertahap memberikan literasi keuangan kepada masyarakat. Edukasi tersebut mencakup pentingnya menyimpan uang di lembaga keuangan resmi, penggunaan layanan digital, hingga pemahaman mengenai perbedaan antara lembaga perbankan dan praktik pinjaman ilegal.
Dalam proses tersebut, Asti juga menghadapi tantangan budaya. Sebagian masyarakat masih terbiasa menyimpan uang di rumah dengan cara tradisional sehingga berisiko mengalami kerusakan maupun kehilangan.
Ia bahkan pernah menemukan uang milik warga yang rusak karena disimpan di dalam bantal maupun di bawah kasur.
"Saya bilang ke mereka, jangan disimpan begitu, nanti dimakan tikus tidak laku lagi," tuturnya sambil terkekeh.
Selain mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menabung, Asti juga memperkenalkan penggunaan aplikasi BRImo sebagai bagian dari transformasi layanan digital BRI. Menurutnya, pemanfaatan layanan digital dapat membantu masyarakat melakukan transaksi tanpa harus selalu bepergian ke kota.
Pendampingan tersebut juga mencakup edukasi mengenai manfaat Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai sumber pembiayaan produktif yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk mengembangkan kegiatan ekonomi.
Upaya yang dilakukan Asti mulai menunjukkan hasil. Dari wilayah yang sebelumnya belum tersentuh layanan perbankan secara optimal, kini ia mengelola lebih dari 700 debitur.
Namun bagi Asti, capaian tersebut bukan sekadar angka. Yang lebih penting adalah perubahan kondisi ekonomi masyarakat setelah memperoleh akses terhadap pembiayaan formal.
Melalui fasilitas KUR, para nelayan mampu meningkatkan kapasitas usaha dengan membeli mesin perahu yang memiliki tenaga lebih besar. Dengan peralatan yang lebih memadai, hasil tangkapan ikan maupun komoditas lokal seperti jahe, kunyit, dan minyak kayu putih dapat dipasarkan langsung ke Ambon sehingga memperoleh harga yang lebih kompetitif.
Perubahan tersebut juga mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap tengkulak karena mereka memiliki akses distribusi yang lebih luas.
Dampak lain juga dirasakan pada sektor pendidikan. Asti menceritakan bahwa di salah satu kampung, puluhan pemuda berhasil lolos menjadi anggota tentara karena orang tua mereka memiliki kemampuan finansial untuk membiayai proses persiapan dan pendidikan.
"Setiap kali dengar mereka bilang 'untung ada kamu berani buka akses ke sini', rasa lelah saya hilang," kata Asti.
Ke depan, Asti berharap masyarakat di wilayah kepulauan Maluku semakin mandiri secara ekonomi dan memiliki kesempatan yang setara dengan daerah lain di Indonesia. Ia juga berharap masyarakat semakin akrab dengan teknologi keuangan sehingga mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Secara terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan keberadaan Mantri BRI di berbagai daerah merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas pemerataan layanan keuangan hingga menjangkau masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.
Menurut Dhanny, pendekatan yang dilakukan melalui pendampingan secara langsung serta pemahaman terhadap karakteristik ekonomi lokal menjadi faktor penting dalam mendorong inklusi keuangan yang memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
“Kisah Asti Alimin menjadi cerminan semangat para Mantri BRI dalam menghadirkan layanan keuangan hingga ke pelosok negeri. Di tengah keterbatasan akses dan tantangan alam, BRI membuktikan bahwa selain membuka akses terhadap layanan perbankan, inklusi keuangan juga menghadirkan harapan, mendorong kemandirian, dan membuka peluang bagi masyarakat untuk tumbuh bersama,” tutup Dhanny.
(tim)
































