Sedangkan harga Pertamina Dex turun dari Rp 24.800/liter ke Rp 21.150/liter. Sementara harga Dexlite turun dari Rp 23.000/liter menjadi Rp 19.700/liter.
Selain itu, tekanan dari kenaikan harga pangan juga tidak terlampau berat. Mengutip catatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga beras kualitas medium I sepanjang Juli terpantau stabil di hampir seluruh provinsi.
Kenaikan harga beras kualitas medium I hanya terjadi di sembilan provinsi yaitu Kalimantan Timur (9.47%), Jawa Timur (5,69%), Sumatera Utara (2,64%), Lampung (2,59%), Gorontalo (2,2%), Jawa Tengah (1,58%), Papua (1,05%), Sulawesi Tengah (0,63%), dan Banten (0,31%).
Sementara itu, harga beras kualitas medium I terlihat turun di Maluku Utara (5.56%) dan Jawa Barat (1,3%).
Kemudian harga bawang merah ukuran sedang malah tidak ada yang naik di seluruh provinsi. Bahkan penurunan yang cukup signifikan terjadi di beberapa provinsi.
Harga bawang merah ukuran sedang turun di Sumatera Utara (35,46%), Jawa Barat (26,81%), Gorontalo (24,17%), Lampung (24,1%), Jawa Timur (23,47%), Kalimantan Utara (19,57%), Sulawesi Selatan (19,44%), Jawa Tengah (19,32%), Kalimantan Selatan (19,28%), Banten (17,66%), Sumatera Selatan (16,57%), Sulawesi Tengah (14,06%), dan Papua (12,13%).
Lalu harga cabai merah besar sepanjang Juli juga terpantau turun di banyak provinsi seperti Sulawesi Tengah (23,04%), Banten (22,63%), Kalimantan Utara (17,94%), Papua (14,61%), Lampung (8,14%), dan Sulawesi Selatan (5,36%).
Adapun harga cabai rawit hijau juga turun di Sulawesi Tengah (33,9%), Maluku Utara (25%), Kalimantan Utara (21,77%), Kalimantan Selatan (11,32%), Papua (9,3%), Sulawesi Selatan (9.27%), dan Jawa Tengah (7,08%).
Inflasi Tahunan
Perlambatan juga diperkirakan terjadi untuk inflasi tahunan (year-on-year/yoy). Konsensus Bloomberg menghasilkan median proyeksi inflasi tahunan pada Juli sebesar 3,16% yoy.
Jika terjadi, maka lebih rendah ketimbang Juni yang sebesar 3,34% yoy.
Proyeksi inflasi inti untuk Juli ada di 2,79% yoy. Tidak seperti inflasi umum, inflasi inti sepertinya akan sedikit terakselerasi dibandingkan Juni yakni 2,76% yoy. Namun secara umum masih stabil, tidak ada perubahan signifikan.
Tamara Henderson, Ekonom Bloomberg Economics, menilai laju inflasi Indonesia pada Juli memang rasanya akan tertahan. Inflasi diperkirakan stabil, tidak ada lonjakan.
“Ada base effect dari harga pangan, yang kemudian meredakan tekanan harga energi,” sebut Henderson dalam risetnya.
Akan tetapi, Henderson berpesan bahwa masa tenang ini mungkin tidak akan bertahan lama. Ada risiko tekanan harga akan kembali terjadi pada bulan-bulan mendatang.
“Inflasi Indonesia kemungkinan akan melampaui target bank sentral di 1,5-3,5% pada akhir kuartal III-2026. Kami memperkirakan puncaknya belum akan terjadi hingga setidaknya Januari tahun depan,” tegas Henderson.
Tekanan inflasi, demikian Henderson. akan datang dari energi. Perang di Timur Tengah yang masih berkecamuk membuat harga energi dunia masih bertahan tinggi.
Selain itu, tekanan inflasi juga bisa datang dari bahan makanan karena ancaman El Nino.
“Tingginya biaya impor kemudian akan menekan nilai tukar rupiah. Namun subsidi pemerintah bisa meredam risiko domestik dalam jangka pendek,” sebut Henderson.
(aji)































