WEF menilai El Niño 2026 tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai fenomena meteorologi. Organisasi tersebut menyebut El Niño sebagai systemic shock atau guncangan sistemik karena dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor sekaligus, mulai dari ketahanan pangan, energi, ketersediaan air, kesehatan masyarakat, hingga rantai pasok global.
Menurut WEF, risiko tersebut semakin besar karena El Niño kali ini terjadi bersamaan dengan tren pemanasan global yang membuat suhu dasar bumi semakin tinggi. Akibatnya, dampak cuaca ekstrem berpotensi menjadi lebih intens dibandingkan kejadian El Niño pada masa lalu.
Dampak El Niño juga mulai menjadi perhatian pelaku ekonomi global.
Dalam laporan yang dikutip Reuters, ekonom JPMorgan memperkirakan El Niño yang berkembang menjadi sangat kuat dapat menaikkan inflasi pangan global sekitar 0,7 poin persentase. Jika bersamaan dengan lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik, kenaikan inflasi pangan bahkan dapat mencapai 1,3%-1,5%.
JPMorgan memperkirakan kombinasi kedua faktor tersebut dapat menambah sekitar 0,6 poin persentase terhadap inflasi global pada 2027.
Lebih lanjut, negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, Brasil, dan Kolombia dinilai menjadi kelompok yang paling rentan karena ketergantungan terhadap sektor pertanian dan tingginya porsi pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan pangan.
Dari dalam negeri, BMKG juga meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan El Niño.
Dalam Pemutakhiran Prediksi Musim Kemarau 2026, BMKG memperkirakan 56,18% wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan di bawah normal selama musim kemarau. Selain itu, durasi musim kemarau di hampir separuh wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dibandingkan kondisi klimatologisnya.
BMKG selanjutnya memproyeksikan peluang El Niño lemah mencapai 100%, El Niño moderat sebesar 98%, dan El Niño kuat sekitar 62% pada paruh kedua 2026. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan meteorologis, berkurangnya ketersediaan air, gangguan produksi pertanian, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
Sebelumnya, dalam Prediksi Musim Kemarau 2026, BMKG juga menyebut sekitar 64,5% Zona Musim (ZOM) diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal, sementara 57,2% ZOM diprediksi memiliki musim kemarau lebih panjang dari biasanya.
Sejumlah lembaga iklim menilai dampak El Niño pada 2026 tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fenomena tersebut, tetapi juga oleh kondisi dunia yang kini menghadapi suhu global lebih tinggi dibandingkan beberapa dekade lalu.
Berangkat dari hal tersebut, pemerintah di berbagai negara didorong memperkuat langkah mitigasi sejak dini, mulai dari pengelolaan sumber daya air, menjaga produksi pangan, mengantisipasi kebakaran hutan, hingga mengendalikan tekanan terhadap harga pangan.
(red)
































