Logo Bloomberg Technoz

Tren tersebut didorong oleh upaya berbagai negara untuk mengurangi ketergantungan terhadap aset berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS), memperkuat ketahanan cadangan devisa, serta meningkatkan perlindungan terhadap risiko inflasi, gejolak pasar keuangan, dan ketidakpastian geopolitik.

Prospek pembelian emas juga masih tetap kuat. Hasil Central Bank Gold Reserves Survey 2026 menunjukkan 45% bank sentral responden berencana menambah kepemilikan emas dalam 12 bulan mendatang, sementara tidak ada satu pun responden yang menyatakan akan mengurangi cadangan emasnya.

Survei tersebut juga menemukan bahwa sebagian besar bank sentral memandang emas memiliki tiga keunggulan utama, yakni sebagai penyimpan nilai jangka panjang (store of value), instrumen diversifikasi portofolio, dan aset yang mampu mempertahankan nilainya pada masa krisis.

Peningkatan kepemilikan emas juga mencerminkan perubahan lanskap sistem moneter global. Ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan internasional, meningkatnya penggunaan sanksi keuangan, serta tingginya volatilitas pasar valuta asing membuat banyak otoritas moneter memilih memperbesar porsi aset yang bebas dari risiko gagal bayar (counterparty risk). Berbeda dengan obligasi atau aset keuangan lainnya, emas tidak bergantung pada penerbit tertentu sehingga dinilai lebih aman sebagai aset cadangan jangka panjang.

Sebagai catatan, pada Kamis (30/7/2026), harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 4.103,4/troy ons. Melonjak 0,92% dari hari sebelumnya. Posisi ini menjadi harga tertinggi sejak 22 Juli atau lebih dari sepekan terakhir. 

Prospek Emas

Memasuki paruh kedua 2026, WGC memperkirakan investasi masih akan menjadi motor utama pertumbuhan permintaan emas. Namun, komposisi permintaan diperkirakan mengalami pergeseran.

Aktivitas di pasar over-the-counter (OTC) dan pembelian oleh investor Asia diproyeksikan semakin dominan, sementara minat investor Barat terhadap ETF emas akan lebih banyak ditentukan oleh arah imbal hasil riil (real yields), ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve, serta pergerakan dolar AS.

"Meskipun arus dana ke ETF emas menurun seiring pelemahan harga, pembelian yang berkelanjutan oleh bank sentral serta pertumbuhan investasi di pasar over-the-counter (OTC) mendorong total permintaan emas naik sekitar 2% sepanjang semester pertama tahun ini," kata Louise Street, Senior Markets Analyst World Gold Council, dalam catatannya. 

Sebelumnya, harga emas yang tetap tinggi sempat menekan permintaan perhiasan pada kuartal II. Volume permintaan perhiasan sempat turun 17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring konsumen mengurangi pembelian emas dan beralih ke produk dengan bobot yang lebih ringan.

Penurunan tersebut menyebabkan volume permintaan perhiasan sepanjang semester pertama juga melemah. Namun, dari sisi nilai, permintaan perhiasan tetap menunjukkan ketahanan. Sepanjang semester I, nilai permintaan perhiasan meningkat 22% secara tahunan hingga mencapai US$86 miliar secara global, didorong oleh tingginya harga emas.

Bagi pasar emas, akumulasi permintaan oleh bank sentral berpotensi menjadi faktor penopang harga. Permintaan dari bank sentral umumnya bersifat jangka panjang dan tidak terlalu sensitif terhadap fluktuasi harga, sehingga mampu membantu menjaga keseimbangan pasar ketika permintaan investasi dari ETF atau sektor perhiasan melemah. 

WGC memperkirakan bank sentral akan tetap melanjutkan akumulasi emas sepanjang sisa tahun ini. Hal ini dilakukan bank sentral sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa, meski dengan kecepatan yang lebih lambat dibandingkan beberapa tahun terakhir. 

Sementara itu, harga emas yang masih bertahan di level tinggi diperkirakan terus menekan permintaan emas perhiasan. "Namun, konsumen diperkirakan lebih memilih mempertahankan kepemilikan emas mereka daripada menjualnya, sehingga pasokan dari kegiatan daur ulang masih belum menunjukkan tanda-tanda peningkatan yang berarti," kata Louise. 

(dsp/aji)

No more pages