Logo Bloomberg Technoz

Didukung Negara Teluk, Oman Ajukan Skema Biaya Sukarela di Hormuz

Redaksi
29 July 2026 12:20

Tanker di Selat Hormuz. (Bloomberg)
Tanker di Selat Hormuz. (Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Oman telah menyampaikan rencana yang didukung negara-negara Teluk kepada Iran untuk mengelola Selat Hormuz, termasuk skema penarikan biaya sukarela bagi kapal yang melintasinya. Usulan tersebut dimaksudkan sebagai landasan untuk mengakhiri gangguan perdagangan di perairan vital tersebut akibat perang AS-Israel melawan Iran.

Dikutip dari Reuters, pihak Iran menyatakan berkeinginan untuk mengelola selat tersebut bersama Oman, yang menguasai wilayah pesisir di seberangnya, serta memungut biaya layanan dari kapal-kapal yang melintas. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyampaikan bahwa Teheran telah mengusulkan kepada Oman agar Iran mengelola jalur pelayaran satu arah di sisi selatnya, sementara Muscat mengelola sebagian—namun tidak seluruhnya—pada arah berlawanan.

Di bawah proposal Oman ini, Iran tidak akan memegang kendali tunggal dan pembayaran biaya dipastikan bersifat sukarela, menurut keterangan seorang sumber Teluk serta diplomat Barat yang menerima pengarahan terkait masalah tersebut.

Sistem ini dianalogikan mirip dengan skema yang diterapkan di Selat Malaka, di mana Indonesia, Malaysia, dan Singapura meminta kontribusi sukarela dari kapal-kapal melintas untuk mendanai navigasi, perlindungan lingkungan, serta operasi pencarian dan penyelamatan (SAR).

Diplomat Barat tersebut membandingkan mekanisme ini dengan pajak karbon sukarela pada tiket pesawat, di mana setiap penumpang memiliki opsi untuk mencentang kotak persetujuan jika ingin membayar kompensasi atas emisi penerbangan mereka.

Namun, mengutip laporan Reuters, seorang pejabat AS pada Selasa (28/7) kembali menolak tegas gagasan mengenai retribusi maupun biaya bagi kapal-kapal yang transit di selat tersebut. Ia menegaskan bahwa jalur tersebut merupakan perairan internasional yang harus bebas dari kontrol maupun pembatasan oleh Iran, seraya menambahkan bahwa kesepakatan yang sedang dibahas tidak akan mencakup aturan biaya apa pun.

Perkembangan di Timur Tengah

Donald Trump, yang menghentikan serangan dua pekan oleh AS pada akhir pekan lalu dalam manuver strategis terbarunya, menyatakan adanya "pembicaraan yang baik" yang sedang berlangsung dengan Iran, namun mengancam akan melancarkan serangan kembali kecuali negosiasi membuahkan hasil. Pihak Iran sendiri membantah berupaya melanjutkan pembicaraan dengan AS.


Iran menyatakan akan menahan diri selama Washington melakukan hal serupa. Namun Komando Sentral AS (Centcom) pada hari Selasa mengungkapkan bahwa Iran telah meluncurkan beberapa rudal balistik "dalam sebuah upaya serangan mendadak terhadap pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah," dan seluruh rudal tersebut berhasil dicegat.

Arab Saudi pada hari Selasa menyatakan bahwa pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan beberapa pesawat nirawak (drone) yang menyasar fasilitas minyak. Serangan tersebut diluncurkan dari wilayah Irak oleh kelompok yang disokong Iran, ungkap juru bicara Kementerian Pertahanan Arab Saudi, Turki al-Maliki.