Hanya saja, kenaikan write-off yang cepat berpotensi ikut mengerek keperluan SUPA untuk memperbesar cadangan kerugian penurunan nilai atau CKPN perseroan.
Adapun, SUPA mencatat total kredit naik 61% secara tahunan ke level Rp13,4 triliun. Manajemen menegaskan target pertumbuhan kredit tahun 2026 sebesar 50-60%.
Pendorong utama pertumbuhan tetap berasal dari ekosistem perbankan digital SUPA yang terintegrasi dengan Grab dan OVO.
Basis nasabah digital kini mencapai 7,4 juta (+86% YoY), dengan transaksi harian meningkat menjadi 1,7 juta (+168% YoY), didukung oleh tingginya adopsi produk seperti OVO Nabung, QRIS, OVO Lagoon, serta fitur auto-saving Saku yang baru diluncurkan.
“Semester pertama 2026 menjadi momentum penting bagi Superbank. Strategi berbasis ekosistem yang kami bangun bersama para pemegang saham kini makin terlihat hasilnya,” kata Presiden Direktur SUPA Tigor M. Siahaan lewat siaran pers, Rabu (29/7/2026).
Seiring dengan pertumbuhan kredit yang agresif, total aset SUPA ikut tumbuh menjadi Rp27 triliun atau naik 82% secara tahunan. Sementara itu, profitabilitas membaik dengan pre-tax ROE meningkat menjadi 5,7% dan prer-tax ROA menjadi 1,9%.
Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp15,9 triliun, meningkat 89,1% secara tahunan. Sementara itu, gross non-peforming loan turun menjadi 1,6% dari 2,1% pada kuartal sebelumnya.
“Ke depan, kami akan terus memperluas kolaborasi di dalam ekosistem untuk menghadirkan layanan keuangan digital yang semakin relevan,” kata Tigor.
Sampai akhir Juni 2026, SUPA dengan layanan digital yang didukung Grab, Emtek, GXS Bank dan KakaoBank telah melayani lebih dari 7 juta nasabah.
Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai positif kinerja keuangan SUPA pada paruh pertama tahun ini. Menurut Andrey, kualitas aset SUPA terus membaik kendati pertumbuhan kredit berlangsung sangat cepat.
“Manajemen mengaitkan ketahanan kualitas kredit ini dengan model penilaian kredit berbasis data Grab dan OVO yang terus disempurnakan dan kini telah memasuki iterasi kelimat,” kata Andrey dalam catatannya, Rabu (29/7/2026).
Di sisi lain, Andrey berpendapat, efisiensi operasional SUPA juga terus menunjukkan perbaikan. Rasio cost-to-income (CIR) turun menjadi 54,8%, dibandingkan 57,2% pada kuartal I-2026 dan 74,6% pada kuartal II-2025.
“Sementara manajemen tetap menargetkan CIR turun menjadi di bawah 50% pada akhir tahun,” kata Andrey.
Ke depan, kata dia, manajemen mempertahankan seluruh panduan utama tahun 2026, termasuk pertumbuhan kredit 50%-60%, NIM 8%-10%, cost of credit 4%-5%, serta target CIR di bawah 50%.
“Sambil menunjukkan optimisme yang lebih tinggi terhadap prospek semester II-2026 meskipun kondisi makro masih beragam,” kata dia.
(naw)





























