Logo Bloomberg Technoz

Dari pasar Asia, pergerakan mata uang cukup beragam. Won Korea Selatan melemah paling dalam, disusul dolar Taiwan, dolar Singapura, yuan China, dan yuan offshore. Sebaliknya, penguatan terbatas terjadi pada ringgit Malaysia, peso Filipina, dan yen Jepang. 

Pergerakan mata uang Asia. (Bloomberg)

Penguatan sebagian mata uang kawasan tertopang oleh ekspektasi bahwa The Fed akan lebih berhati-hati dalam melakukan pengetatan moneter dengan terbatasnya data pendukung. Bloomberg memperkirakan The Fed diperkirakan masih akan menahan suku bunga acuan di 3,5-3,75%.

Meski demikian, faktor geopolitik dan kondisi makro diperkirakan masih menjadi penentu utama kinerja aset-aset di kawasan Asia pada kuartal III-2026. Di samping itu, langkah yang ditempuh masing-masing negara dengan kebijakan moneternya yang akan menopang kinerja mata uang domestik.

Seperti yang dilakukan bank sentral Filipina yang melakukan intervensi dalam skala kercil untuk menopang penguatan peso pekan lalu. Kemarin, peso melemah 0,1% ke PHP61,74/US$. Yield obligasi pemerintah Filipina tenor 10 tahun juga naik 1,03 basis poin (bps) menjadi 7,62%. 

Sementara, pelemahan won yang cukup tajam dipicu oleh penurunan saham-saham teknologi, permintaan dolar dari investor asing yang menjual saham Korea Selatan, serta masih kuatnya dolar AS. 

Indeks saham Kospi Korea anjlok setelah muncul kekhawatiran terhadap prospek keuntungan industri chip. Saham-saham emiten semikonduktor ternyata cukup dominan. 

Saat ini, Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc. menyumbang sekitar 46% kapitalisasi pasar Kospi, setelah kedua perusahaan tersebut menikmati lonjakan kinerja selama booming kecerdasan buatan (AI).

Akibatnya, Kospi kini bergerak layaknya indeks semikonduktor yang sangat sensitif terhadap perubahan permintaan global chip AI, pembangunan pusat data (data center), serta siklus industri chip memori.

Sementara, pelemahan yang terjadi pada rupiah didorong oleh sejumlah sentimen. Pada mulanya, kekhawatiran investor dipicu oleh defisit fiskal dan defisit neraca transaksi berjalan. Kini, kekhawatiran itu bertambah dengan adanya ketidakpastian yang terjadi pada otoritas moneter, Bank Indonesia.

Sejak pengunduran diri Perry Warjiyo dari kursi Gubernur BI awal pekan ini, rupiah sudah tergerus 0,55%. Sejak awal tahun, rupiah melemah 7,83%.

(dsp/aji)

No more pages