Dari Filipina, bank sentral melakukan intervensi dalam skala kercil untuk menopang penguatan peso pada pekan lalu. Kemarin, peso melemah 0,1% ke PHP61,74/US$. Yield obligasi pemerintah Filipina tenor 10 tahun juga naik 1,03 basis poin (bps) menjadi 7,62%.
Sementara, pelemahan won yang cukup tajam dipicu oleh penurunan saham-saham teknologi, permintaan dolar dari investor asing yang menjual saham Korea Selatan, serta masih kuatnya dolar AS.
Sedangkan, pergerakan rupiah semakin terbebani oleh kondisi ketidakpastian setelah pengunduran diri Perry Warjiyo dari kursi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Hari ini, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan tertekan mengingat sebagian besar investor memasang mode risk-off dan semakin hati-hati serta selektif terhadap aset di pasar negara berkembang.
Hal tersebut terlihat dari hasil lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang berlangsung kemarin (28/7/2026). Penawaran yang masuk turun sebesar Rp7,59 triliun atau 23,37% menjadi Rp24,88 triliun, dari Rp32,47 triliun pada lelang sebelumnya (14/7/2026).
Analisis Teknikal
Secara teknikal, rupiah berisiko melanjutkan tren pelemahan hari ini. Adapun rupiah berpotensi melemah menuju support terdekat Rp18.100/US$.
Support selanjutnya bisa menembus Rp18.140/US$ usai penembusan trendline sebelumnya.
Teknikal rupiah juga memperlihatkan level Rp18.180/US$ sebagai level paling pesimistis. Artinya, mata uang Ibu Pertiwi bisa saja mencatat all-time low, rekor terlemah, baru.
Sebaliknya, rupiah memiliki level resistance terdekat Rp18.050/US$. Apabila posisi ini berhasil tembus, maka mengonfirmasi resistance selanjutnya kembali ke Rp18.000/US$.
(riset/aji)





























