Harga minyak mengalami fluktuasi tajam (whipsawed) bulan ini; awalnya melonjak seiring kembali memanasnya permusuhan antara AS dan Iran serta meluasnya konflik ke Laut Merah, di mana kelompok Houthi yang didukung Teheran mengancam akan memblokade pelabuhan-pelabuhan Saudi, sebelum akhirnya harga kembali turun sebagian seiring meredanya ketegangan. Perhatian pasar tetap berfokus pada aliran minyak mentah, dengan lalu lintas melalui Selat Hormuz yang masih terbatas.
Di Washington, Presiden Donald Trump bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, saat pemimpin AS tersebut berupaya menghindari pemboman lanjutan di Iran. Israel — yang meluncurkan perang bersama AS pada bulan Februari — mengisyaratkan bahwa mereka mendukung perundingan. Setelah pertemuan tersebut, seorang juru bicara Israel menyatakan bahwa semua pihak lebih memilih "cara yang mudah," yakni penyelesaian melalui perundingan, ketimbang "cara yang sulit," yaitu tindakan militer.
“Masih ada ruang bagi kurva jangka pendek (short end of the curve) untuk turun,” kata Rob Thummel, manajer portofolio senior di Tortoise Capital Advisors LLC, yang merujuk pada kontrak berjangka minyak mentah bulan terdekat.
“Namun, kurva jangka panjang kemungkinan besar akan bergerak lebih tinggi kecuali jika solusi diplomatik berhasil dicapai.”
Harga:
- WTI untuk pengiriman bulan September naik 3,1% menjadi US$81,71 per barel pada pukul 06.22 waktu Singapura.
- Brent untuk penyelesaian bulan September turun 4,8% dan ditutup pada level US$84,09 per barel pada hari Selasa.
(bbn)





























