Konflik di Timur Tengah telah menghambat aliran LNG dari Teluk Persia yang sebelumnya menyumbang sekitar seperlima dari pasokan global, sehingga mengguncang pasar gas yang diangkut melalui laut.
Eropa dan Asia kini bersaing memperebutkan pasokan alternatif yang terbatas, di mana gelombang panas meningkatkan permintaan di beberapa negara.
QatarEnergy juga memberi tahu importir LNG milik negara Bangladesh pekan lalu bahwa mereka akan memperpanjang force majeure hingga pertengahan September, seperti yang dilaporkan Bloomberg.
QatarEnergy pertama kali menghentikan pengiriman ke pembeli Eropa pada awal perang pada Maret. Sejak itu, mereka telah merevisi dan memperpanjang klausul kontrak tersebut.
Awal Juli lalu, Qatar menghentikan upaya untuk segera memulihkan produksi di kompleks Ras Laffan—menampung fasilitas LNG terbesar di dunia—setelah serangan terhadap salah satu kapal tankernya di Selat Hormuz memicu kekhawatiran bahwa transit melalui jalur laut krusial tersebut masih terlalu berisiko.
Kini, QatarEnergy menawarkan untuk menyewa kembali kapal pengangkut LNG guna pengiriman segera hingga akhir Oktober, demikian dilaporkan Bloomberg News, mengindikasikan bahwa negara tersebut tidak terburu-buru untuk mengembalikan kapal-kapalnya ke Teluk Persia.
Meski pertempuran di Timur Tengah telah berhenti sementara, setelah AS dan Iran menghentikan serangan, harga gas di Eropa tetap jauh lebih tinggi sejak konflik tersebut dimulai dan kawasan ini jauh tertinggal dari laju penimbunan stok biasanya.
(bbn)































