Sementara, nada yang lebih berhati-hati disampaikan Fitch Ratings. Kepada Bloomberg News, Direktur Sovereign Team Fitch George Xu menilai Indonesia menghadapi risiko tekanan eksternal yang lebih besar akibat sentimen investor yang masih rapuh.
Menurut Fitch, ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter ke depan dan persepsi terhadap independensi bank sentral dapat memperbesar tekanan di pasar domestik. Kekhawatiran tersebut dinilai makin relevan, sebab BI kini punya mandat yang lebih kompleks.
Fitch juga memperingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi terus membebani stabilitas rupiah, meningkatkan biaya pinjaman pemerintah, serta mengikis bantalan eksternal Indonesia. Pandangan tersebut sejalan dengan penilaian Fitch sebelumnya ketika lembaga ini merevisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil.
Saat itu, Fitch menyoroti meningkatnya ketidakpastian kebijakan, melemahnya konsistensi bauran kebijakan (policy mix), serta makin terpusatnya kewenangan pengambilan kebijakan sebagai faktor yang meningkatkan risiko terhadap profil kredit Indonesia.
Fitch menegaskan akan terus memantau perkembangan pergantian kepemimpinan BI serta implikasinya terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Sementara itu, S&P Global Ratings mengambil posisi yang relatif lebih moderat. Menurut Analis Sovereign S&P Rain Yin, pengunduran diri Perry Warjiyo tak punya dampak langsung pada peringkat kredit Indonesia.
Namun, S&P mengakui bahwa momentum pengunduran diri itu terjadi ketika kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik sedang turun. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah, serta meningkatkan biaya pendanaan pemerintah dalam jangka pendek.
Selain itu, S&P menilai pergantian pimpinan BI dapat meningkatkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter dan respons pemerintah dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi.
Meski demikian, lembaga yang masih mempertahankan prospek utang RI di posisi stabil ini, menilai bahwa tekanan terhadap kondisi fiskal dan sektor eksternal Indonesia akan berangsur mereda dalam beberapa bulan mendatang, seiring stabilnya perubahan kebijakan dan berkurangnya risiko implementasi.
Akan tetapi, S&P tetap memberi catatan penting. Jika pelemahan indikator fiskal maupun eksternal Indonesia berubah jadi persoalan yang bersifat struktural, bukan sekadar sementara, maka akan menimbulkan risiko terhadap peringkat utang Indonesia pada masa mendatang.
(dsp/aji)






























