“Eskalasi ketegangan di Timur Tengah telah mendongkrak harga minyak mentah, memicu kekhawatiran bahwa inflasi dapat kembali terakselerasi dan menunda pelonggaran suku bunga, bahkan berpotensi memicu The Fed untuk menaikkan suku bunga,” ujar Sameer Samana dari Wells Fargo Investment Institute. “Kami memperkirakan harga minyak pada akhirnya akan ternormalisasi, namun menyadari situasi mungkin akan memburuk terlebih dahulu sebelum akhirnya membaik.”
Risiko-risiko tersebut muncul di saat para pelaku pasar tengah mencari bukti bahwa taruhan besar pada sektor AI mampu menghasilkan pertumbuhan baru alih-alih justru menggerus profitabilitas. Selain Alphabet, Meta Platforms Inc, Microsoft Corp, dan Amazon.com Inc pada April lalu telah memberi sinyal bakal menggelontorkan dana hingga US$725 miliar tahun ini demi ambisi AI mereka.
“Ini masih terlalu dini, dan kita akan melihat lebih banyak laporan keuangan dari para hyperscaler minggu depan,” ujar Matt Maley dari Miller Tabak. “Jadi, kita belum bisa menyimpulkan bahwa mereka merespons laporan keuangan dengan reaksi negatif yang sama seperti saham-saham produsen cip, namun aksi pasar ini jelas memicu kekhawatiran lebih lanjut mengenai isu sell the news.”
Sementara itu, Maley mencatat bahwa persoalan geopolitik kini makin signifikan, dan kondisi ini sama sekali tidak menguntungkan bagi aset-aset berisiko karena tingginya biaya energi turut mendongkrak imbal hasil Treasury.
“Pasar saham sebenarnya mampu mengabaikan kenaikan imbal hasil ini selama beberapa bulan terakhir,” katanya. “Namun, dengan imbal hasil yang mencetak rekor tertinggi baru untuk tahun ini, hal tersebut berpotensi besar menciptakan hambatan dalam waktu dekat.”
Eskalasi konflik AS-Iran juga memicu kecemasan akan potensi kenaikan suku bunga acuan. Hanya beberapa hari menjelang rapat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), pasar uang menunjukkan para pelaku pasar memperhitungkan peluang sekitar 35% untuk kenaikan suku bunga, melonjak dari kisaran 10% pada pekan lalu. Kenaikan suku bunga bahkan telah diperhitungkan sepenuhnya (fully priced in) bakal terjadi pada September mendatang.
“Meskipun kami menilai ada risiko signifikan The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini, ekspektasi harga untuk rapat minggu depan terlihat terlalu ekstrem karena The Fed kemungkinan ingin mengamati arah inflasi inti selama beberapa bulan ke depan sebelum mengambil keputusan mengenai kenaikan suku bunga,” ujar Gennadiy Goldberg dari TD Securities.
(bbn)






























