Jika Trump benar-benar merealisasikan kenaikan tarif yang dijadwalkan berlaku dalam 30 hari mendatang, langkah ini akan mencatatkan kebijakan perdagangan paling keras yang pernah dilancarkannya terhadap mitra dagang terbesar kedua AS tersebut. Kendati demikian, Trump sebelumnya pernah melontarkan ancaman serupa hanya untuk kemudian melunak usai proses negosiasi atau merespons kekhawatiran pasar. Pejabat tersebut menyebutkan bahwa Trump telah menandatangani proklamasi perintah pengenaan tarif tersebut pada Senin (20/7).
“Saya tidak akan menanggapi hal tersebut,” ujar Menteri Energi Kanada, Tim Hodgson, dalam sebuah wawancara sesaat setelah pengumuman tersebut dirilis. “Kita sudah pernah melihat hal semacam ini sebelumnya.”
Pengenaan tarif ini menerapkan Pasal 338 dari Tariff Act tahun 1930, yang memberi wewenang penuh kepada presiden untuk mengenakan bea masuk hingga 50% terhadap negara-negara yang dinilai mendiskriminasi perdagangan AS. Pejabat tersebut menambahkan bahwa ketentuan ini belum pernah digunakan sebelumnya untuk memungut tarif.
Langkah politik pada hari Senin ini berpotensi merenggangkan hubungan AS dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney, yang sebenarnya baru saja mendampingi Trump menyaksikan laga final Piala Dunia di New Jersey pada hari Minggu. Pekan lalu, Trump sempat mengancam akan menaikkan tarif sebagai bentuk hukuman bagi Kanada atas kabut asap kebakaran hutan yang menyelimuti kota-kota di AS, termasuk New York dan Washington.
Memperkeruh jalinan kemitraan dagang kedua negara, AS pada awal bulan ini menolak untuk memperpanjang perjanjian perdagangan bebas USMCA bersama Kanada dan Meksiko. Keputusan tersebut berpotensi memicu proses negosiasi yang alot dan berlarut-larut selama bertahun-tahun. Pada Januari lalu, Trump sempat mengancam tarif 100% pada barang dan jasa Kanada jika negara itu menyepakati perjanjian dagang dengan China, meski ancaman itu akhirnya menguap begitu saja.
Tindakan tegas AS pada hari Senin ini sebagian dipicu oleh keputusan sejumlah provinsi di Kanada yang menarik produk minuman beralkohol dan komoditas AS lainnya dari rak-rak toko. Langkah retaliasi Kanada kala itu merupakan respons atas tarif yang dijatuhkan Trump tahun lalu, di mana saat itu ia berulang kali melontarkan wacana agar Kanada bergabung menjadi negara bagian AS ke-51.
“Secara khusus, Kanada telah menarik produk-produk alkohol AS dari rak toko mereka, memberikan akses pasar yang lebih baik bagi produk olahan susu dari Uni Eropa, serta membatasi kuota ekspor kendaraan AS ke Kanada dari perusahaan-perusahaan yang memindahkan basis produksinya ke Amerika Serikat,” tegas Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, dalam pernyataan resminya.
Pejabat senior pemerintahan menyebutkan bahwa AS masih menjajaki berbagai opsi terkait ancaman Trump, namun menegaskan bahwa kebijakan tarif pada hari Senin tidak ada hubungannya dengan isu asap kebakaran hutan.
Bagi beberapa produk yang terkena tarif baru, porsi ekspor Kanada ke AS sebenarnya tidak mendominasi total perdagangan bilateral kedua negara. Sebagai contoh, Kanada hanya mengekspor produk olahan susu senilai C$391juta ke AS pada tahun lalu, berdasarkan data pemerintah Kanada.
Sementara itu, ekspor bir, wine, dan minuman keras ke AS mencatatkan nilai total US$1,9 miliar pada tahun 2025, menurut data perdagangan resmi AS.
Secara keseluruhan, kedua negara tetangga ini mencatatkan nilai perdagangan barang dan jasa hampir menembus US$900 miliar pada tahun lalu.
Sejak kembali menjabat di Gedung Putih tahun lalu, Trump beserta jajaran pejabatnya terus mendesak Kanada untuk memberikan konsesi, yang beberapa di antaranya berhasil didapatkan. Setahun lalu, pemerintahan PM Carney membatalkan pajak jasa digital yang ditentang keras oleh industri teknologi AS dan Gedung Putih. Namun, beberapa pekan berselang, Trump tetap menaikkan tarif barang-barang asal Kanada.
Kemudian pada Agustus lalu, Carney mengumumkan bakal mencabut sebagian besar tarif balasan Kanada terhadap AS di tengah bergulirnya proses negosiasi. Namun, Trump memutuskan untuk menghentikan sepihak pembicaraan tersebut pada bulan Oktober.
Sejauh ini, banyak eksportir Kanada yang berhasil menghindari jerat tarif dengan memanfaatkan fasilitas pengecualian USMCA. Data perdagangan menunjukkan bahwa 81% impor asal Kanada telah memenuhi standar USMCA pada bulan Mei, melonjak drastis dari angka 34% pada Februari 2025 sebelum gelombang tarif pertama Trump resmi berlaku.
Pihak kantor Perdana Menteri maupun Kementerian Perdagangan Kanada-AS di Ottawa belum memberikan tanggapan resmi saat dimintai konfirmasi.
(bbn)

































