"Jumlah penduduk yang tidak punya rekening semakin kecil sekarang. Kan setiap tahun saya monitor, turun sekitar 2 jutaan. Sekarang tinggal 15 juta. Berarti kan masyarakat punya rekening untuk beraktivitas.Terus rekening yang aktif, itu masih semakin banyak setahun terakhir ini," ujar Anggito.
Menurut Anggito, data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat masih berjalan.
Di sisi lain, dia juga menuturkan jumlah rekening dengan simpanan di atas Rp5 miliar naik cukup tinggi. Namun, Anggito tidak memerinci berapa banyak jumlah atau persentase kenaikannya.
"Sampai yang paling tinggi, yang paling besar, Rp5 miliar itu naiknya tinggi sekali. Saya kan hanya memotret saja, potretnya mengatakan bahwa jumlah nominal, jumlah rekening naik, itu saja," tuturnya.
Menurutnya, hal itu menjadi salah satu indikator bahwa kondisi ekonomi mikro masih cukup baik dan meningkat. Meskipun, pada segmen kredit UMKM terjadi pelambatan.
"Tapi tadi belum sempat kita berdiskusikan, seolah-olah makronya baik itu mikronya nggak ada indikatornya baik. Tadi kan disebutkan kredit UKM itu hanya tumbuhnya 1%, 1,6% per juni ya, atau 0,5% per Mei gitu. Kok rendah sekali? Tapi kalau kita bedah lagi, sebetulnya masih banyak indikator yang bisa menunjukkan bahwa sektor mikronya juga baik," ucap Anggito.
Sekadar catatan, baru-baru ini Bank Indonesia (BI) melaporkan indeks keyakinan konsumen (IKK) turun menjadi 117,8 pada Juni dari posisi Mei di level 120,9. Tren pelemahan yang sudah terlihat dalam tiga bulan terakhir secara beruntun, sekaligus menjadi level terendah sejak September 2025.
Dalam indeks tersebut, kelompok akademi/diploma dan pascasarjana sama-sama mencatat penurunan IKK sebesar 6,6 poin dalam sebulan, sementara kelompok sarjana turun 6,3 poin.
Sebaliknya, optimisme masyarakat berpendidikan SMA hanya turun 2,1 poin. Pola ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar pula kekhawatiran terhadap prospek ekonomi.
Fenomena ini bukan kebetulan belaka. Kelompok berpendidikan tinggi umumnya bekerja di sektor formal, punya akses informasi yang lebih luas terhadap dinamika ekonomi-sosial-politik, lebih sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter, dan kondisi pasar tenaga kerja. Saat kelompok ini mulai menahan konsumsi dan menurunkan ekspektasi terhadap masa depan, hal tersebut mencerminkan meningkatnya persepsi risiko terhadap perekonomian.
Contohnya, di kelompok pascasarjana, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun 7,9 poin, dan menjadi penurunan terdalam dibanding kelompok pendidikan lain. Persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja juga mereosot tajam 8,9 poin, sementara ekspektasi terhadap lapangan kerja enam bulan mendatang turun hingga 11,2 poin. Kelompok ini juga mengalami penurunan indeks pembelian barang tahan lama yang anjlok sebesar 14,1 poin.
(mfd/ell)






























