Di bidang penelitian, ia mencatat, 80% upaya perusahaan tahun ini akan difokuskan pada penemuan bahan baru. Salah satu tujuan perusahaan, tambahnya, adalah mengurangi atau menghilangkan penggunaan logam langka yang memiliki risiko rantai pasokan, seperti ruthenium dan iridium, dalam pembuatan chip.
Pendanaan baru ini — yang dipimpin oleh perusahaan modal ventura Kleiner Perkins dan NEA, dengan “partisipasi signifikan” dari Bezos Expeditions, menurut CuspAI — menempatkan valuasi startup tersebut di angka US$2,6 miliar, naik dari US$520 juta pada September lalu. Bloomberg dan Financial Times sebelumnya telah memberitakan beberapa aspek dari kesepakatan tersebut.
Pada awalnya, CuspAI berfokus pada pencarian bahan baru untuk penangkapan karbon dan pemurnian air. Namun, Edwards mengatakan bahwa perusahaan memutuskan untuk mengubah arah selama setahun terakhir sebagai respons atas permintaan teramat besar dari rantai pasokan manufaktur chip, yang produknya sangat penting untuk mendukung kecerdasan buatan.
Kekurangan akut semikonduktor, terutama pada chip memori, menyebabkan penurunan harga saham pekan lalu di berbagai perusahaan teknologi yang bergantung pada perangkat keras tersebut. Produsen chip dan pemasok semikonduktor “tengah kalut mencari bahan baru,” kata Edwards dalam sebuah wawancara. “Kami benar-benar ditarik dari segala arah.”
Geetika Gupta, direktur senior di Nvidia, mengatakan bahwa produsen chip tersebut melihat permintaan yang sangat besar akan bahan-bahan baru di seluruh segmen pasarnya, mulai dari sistem penyimpanan energi hingga pendinginan pusat data. Dengan Foundry, Gupta mengatakan Nvidia kemungkinan besar akan mengembangkan bahan-bahan inovatif melalui “kolaborasi tiga pihak” antara CuspAI dan mitra ketiga. “Semua perusahaan ini memperlakukan banyak informasi ini sebagai rahasia dagang,” jelas dia.
CuspAI termasuk di antara semakin banyaknya pengembang AI yang beralih ke ilmu pengetahuan untuk membuka pasar baru. Sistem AI sebelumnya telah menunjukkan bahwa mereka dapat belajar dari data biologis, seperti bentuk protein, untuk berpotensi menemukan obat baru.
Model-model yang lebih baru, secara teori, dapat menyaring sejumlah besar data molekuler untuk menghasilkan desain bahan yang dapat berguna bagi manufaktur dan energi terbarukan. Para investor berbondong-bondong masuk ke bidang ini untuk mendukung upaya yang dipimpin oleh mantan peneliti OpenAI dan DeepMind, serta Prometheus, sebuah perusahaan baru senilai US$41 miliar yang diluncurkan oleh Bezos. Google DeepMind juga telah mengindikasikan bahwa mereka akan segera mulai mengerjakan penemuan bahan untuk AI.
CuspAI berusaha menonjolkan diri melalui talenta yang dimilikinya. Max Welling, salah satu pendiri lainnya, adalah peneliti AI yang dihormati. Yann LeCun dan Geoffrey Hinton, dua pelopor teknik AI modern, duduk di dewan penasihat startup tersebut.
Hari Senin, perusahaan ini juga menunjuk Abhi Talwalkar, seorang orang paling berpengalaman di bidang semikonduktor dan direktur Advanced Micro Devices Inc (AMD), sebagai anggota dewan direksi.
Unit ventura AMD turut berpartisipasi dalam putaran pendanaan terbaru CuspAI. Selain itu, CuspAI menyatakan telah merekrut John Giannandrea, mantan eksekutif Google dan Apple, untuk bekerja paruh waktu dalam mendirikan kantor cabang startup tersebut di California.
Sistem pembelajaran mesin “miscaya” telah mempercepat proses pengembangan bahan baru, kata David Fairen-Jimenez, profesor teknik molekuler di Universitas Cambridge. Namun, ia mengingatkan bahwa merancang bahan baru yang secara ekstrem lebih baik daripada bahan yang sudah ada merupakan proses yang panjang dan mahal, dan AI hanya dapat memberikan bantuan yang terbatas. “Ini sangat berguna. Yang tidak saya setujui adalah anggapan bahwa akan ada keajaiban yang muncul hanya dari pembelajaran mesin saja.”
Fairen-Jimenez telah mendirikan dua startup di bidang ilmu material, tetapi tidak bekerja sama atau memberikan nasihat kepada CuspAI.
CuspAI sudah paham betul betapa banyak proses coba-coba yang terlibat dalam penemuan bahan berbasis AI. Salah satu proyek awal startup ini melibatkan kerja sama dengan para peneliti dari Meta untuk menemukan bahan baru yang mampu menangkap karbon dioksida penyebab pemanasan global dan memperlambat perubahan iklim.
Untuk melakukannya, CuspAI membangun perpustakaan yang berisi 300 triliun struktur potensial dalam kelas senyawa kimia yang disebut kerangka logam-organik (metal organic frameworks, atau MOFs), yang memiliki atom logam yang dikelilingi oleh rantai molekul berbasis karbon dan sangat efektif dalam menangkap karbon. Sistem tersebut kemudian menyaring daftar tersebut hingga tersisa 10 struktur.
Mengubah penelitian teoritis tersebut menjadi hasil yang bermanfaat ternyata lebih sulit. CuspAI hanya mampu mensintesis kurang dari 10 senyawa kimia tersebut, dan tidak ada yang kinerjanya melebihi produk yang sudah tersedia secara komersial, kata Edwards. “Mereka bukan yang tercanggih,” tambahnya.
Namun, CuspAI belum meninggalkan pendekatan ini. Startup tersebut kini menggunakan perpustakaan yang sama untuk menemukan bahan baru yang mampu menghilangkan bahan kimia beracun “abadi” dari air. Kemira Oy, sebuah perusahaan kimia asal Finlandia, akan mencoba mensintesis dan menguji 20 struktur baru ini tahun ini.
Terlepas dari kemitraan dan investornya yang terkenal, tidak ada satu pun proyek CuspAI yang telah menghasilkan molekul kandidat yang cukup baik untuk keluar dari laboratorium.
Namun, Welling, salah satu pendiri perusahaan tersebut, tidak merasa khawatir. Ia menyebutkan kurangnya data yang andal, fasilitas pengujian, dan daya komputasi sebagai masalah yang selama ini dihadapi oleh perusahaan-perusahaan di bidang ini — dan yang diharapkan dapat diatasi oleh CuspAI melalui fasilitas produksinya.
“Lebih banyak orang menyepelekan tantangan yang sebenarnya dihadapi saat melakukan eksperimen. Mungkin terlihat sederhana, tapi sebenarnya sama sekali tidak,” pungkas dia.
(bbn)
































