Logo Bloomberg Technoz

"Kami berduka atas wafatnya Amir Bapak Bangsa yang kepemimpinan visionernya membentuk Qatar modern dan menjadikan negara ini sebagai mitra strategis global bagi Amerika Serikat," tulis Kedubes AS.

Lahir pada 1952, Sheikh Hamad menempuh pendidikan di Royal Military Academy Sandhurst, Inggris, sebelum bergabung dengan Angkatan Bersenjata Qatar pada 1971. Ia ditunjuk sebagai putra mahkota pada 1977 dan secara bertahap mengambil alih berbagai tanggung jawab pemerintahan, termasuk pengelolaan sektor minyak dan gas alam.

Pada 1995, Emir Sheikh Khalifa berupaya menarik kembali sebagian kewenangan putranya. Hamad kemudian memanfaatkan situasi tersebut untuk mengambil alih kekuasaan saat ayahnya berada di Swiss. Berdasarkan buku Qatar: A Modern History karya Allen Fromherz, Hamad memerintahkan tank dan personel militer mengepung Amiri Diwan. Sejumlah upaya kudeta balasan yang didukung Sheikh Khalifa kemudian gagal.

Naik takhta pada usia 44 tahun, Hamad dipandang sebagai sosok pembaru, baik di kawasan Teluk maupun di dalam negeri. Ia memperkenalkan sejumlah reformasi demokrasi terbatas, termasuk menggelar pemilihan umum tingkat kota pertama di Qatar pada 1999 serta mengesahkan konstitusi yang diratifikasi pada 2004. Namun, janji untuk menggelar pemilihan legislatif yang lebih luas belum sepenuhnya terealisasi hingga kini.

Di bawah kepemimpinannya, nilai ekonomi Qatar melonjak lebih dari 20 kali lipat menjadi US$199 miliar pada 2013, berdasarkan data Bank Dunia. Seiring derasnya pemasukan dari ekspor gas, Hamad menyisihkan sebagian pendapatan negara untuk investasi dan mendirikan Qatar Investment Authority (QIA) pada 2005.

Di bawah pengawasan penasihat dekatnya, Sheikh Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani atau HBJ, QIA berinvestasi di dalam maupun luar negeri, terutama di sektor di luar industri hidrokarbon. Dana investasi negara itu memanfaatkan gejolak krisis keuangan global dengan mengakuisisi saham sejumlah perusahaan besar dunia, termasuk Barclays Plc dan Volkswagen AG. Pada 2010, QIA juga mengakuisisi department store ikonik Harrods di London.

Di dalam negeri, proyek-proyek pembangunan yang disetujui Hamad mengubah Doha dari kota kecil menjadi pusat metropolitan modern, meski skalanya masih lebih kecil dibandingkan Dubai. Bersama istrinya, Sheikha Moza bint Nasser Al Misnad, Hamad juga mengundang sejumlah universitas AS, seperti Georgetown University, Texas A&M University, dan Carnegie Mellon University, untuk membuka kampus di Qatar.

Pada 2010, Qatar menjadi negara Timur Tengah pertama yang ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022.

Salah satu keputusan paling berpengaruh Hamad adalah memberikan pinjaman sebesar US$500 juta (atau sekitar Rp9,03 triliun dengan asumsi kurs Rp18.069/US$) kepada Al Jazeera pada 1996. Jaringan berita yang berbasis di Doha tersebut segera menjadi sorotan di tingkat regional maupun internasional karena menjadi salah satu media berbahasa Arab pertama yang berani mengkritik politik domestik negara-negara tetangga, meski relatif jarang mengulas isu politik dalam negeri Qatar.

Kebijakan geopolitik Hamad juga kerap menempatkannya pada posisi yang berbeda dengan para sekutunya. Ia mengizinkan AS membangun pangkalan udara terbesar di kawasan, namun tetap menjaga hubungan baik dengan Iran. Hingga pecahnya Perang Gaza 2009, ia juga mengizinkan Israel membuka kantor dagang di Qatar, sembari mempertahankan hubungan dekat dengan kelompok Hamas di Palestina.

Saat gelombang Arab Spring melanda kawasan pada 2011, Hamad mendukung berbagai gerakan protes. Qatar mendukung pemberontakan di Suriah, mengirim pesawat tempur untuk melawan pasukan Muammar Qaddafi di Libya, serta memberikan pinjaman US$8 miliar kepada pemerintahan Islamis pertama Mesir yang dipimpin Mohamed Mursi setelah tergulingnya Presiden Hosni Mubarak.

Meningkatnya pengaruh Qatar tidak selalu mendapat sambutan positif dan justru memicu perpecahan di kawasan. Demonstran di Libya dan Mesir membakar bendera Qatar sebagai bentuk protes atas dukungan Sheikh Hamad terhadap kelompok-kelompok Islamis di negara mereka. Setelah Hamad turun takhta, militer Mesir menggulingkan Mursi, sementara upaya Qatar mendukung kelompok pemberontak di Suriah gagal seiring menguatnya ISIS dan pasukan Presiden Bashar al-Assad.

Dukungan Hamad terhadap berbagai gerakan tersebut turut menjadi awal dari perselisihan diplomatik dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir yang kemudian mewarnai masa pemerintahan putranya, Sheikh Tamim. Meski perselisihan pada 2014 berhasil diselesaikan dalam waktu delapan bulan, keempat negara tersebut kembali memutus hubungan dagang dan diplomatik dengan Qatar pada 2017 selama lebih dari tiga tahun.

(bbn)

No more pages