Logo Bloomberg Technoz

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, penyebab defisit terbesar adalah defisit komoditas migas sebesar -US$3,76 miliar yang berasal dari komoditas minyak dan minyak mentah.

Pelemahan fundamental ekonomi ini disebabkan oleh nilai ekspor yang terkontraksi 5,73% secara tahunan menjadi US$23,2 miliar. Penurunan terjadi secara luas baik pada ekspor migas maupun nonmigas. Pengiriman produk energi melemah tajam, dengan ekspor minyak mentah praktis tidak tercatat lagi, sementara ekspor gas alam merosot lebih dari 44%.

Neraca Dagang Mei 2026 Defisit US$1,6 M, Pertama Sejak 2020 (Bloomberg Technoz)

Permintaan dari AS, India, hingga kawasan ASEAN mulai melemah dengan adanya perlambatan aktivitas manufaktur global. Hal ini berdampak penurunan ekspor nonmigas, yang menyumbang sebagian besar perdagangan luar negeri Indonesia, sebesar 4,5%.

Di saat yang sama, impor melonjak lebih dari 22%, terutama akibat kenaikan impor energi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak selama konflik terjadi antara AS dan Iran. 

BPS melaporkan nilai impor naik 22,16% menjadi US$24,81 miliar, dengan nilai impor migas yang melonjak 70,78% menjadi US$4,51 miliar dari posisi yang sama tahun lalu  sebesar US$2,64 miliar. Sementara, impor non-migas juga tercatat naik 14,89% menjadi US$20,3 miliar dari US$17,57 miliar.

Besarnya impor energi terus memperlebar defisit neraca perdagangan migas, dan membuat neraca perdagangan Indonesia kian rentan terhadap fluktuasi harga energi global. Dengan munculnya defisit pada neraca dagang ini, maka salah satu penopang nilai tukar rupiah menjadi tererosi.

Samuel Sekuritas menilai, kinerja perdagangan yang lemah juga dapat memberi tekanan tambahan terhadap neraca transaksi berjalan (current account balance), dan neraca pembayaran (balance of payments) pada kuartal II-2026. “Terutama apabila pelemahan ekspor berlanjut sementara permintaan impor tetap tinggi,” sebut laporan Samuel Sekuritas.

Aktivitas Manufaktur

Pelemahan yang terjadi pada fundamental ekonomi tak cuma tercermin dari sisi eksternal. Mesin pertumbuhan domestik juga mulai terlihat kehilangan tenaga.

Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun tajam ke level 46,9 pada Juni 2026, dari 50,0 pada bulan sebelumnya. Angka tersebut kembali berada di zona kontraksi dan menjadi level terendah sejak Juni 2025. Penurunan ini mengindikasikan bahwa perlambatan tidak lagi hanya berasal dari melemahnya permintaan global, tetapi mulai merembet ke aktivitas domestik.

Kontraksi manufaktur terjadi seiring melemahnya pesanan baru dari dalam maupun luar negeri. Pesanan ekspor mencatat penurunan terdalam sejak Agustus 2021, mencerminkan semakin lesunya permintaan dari negara-negara mitra dagang. Di sisi domestik, perlambatan konsumsi juga mulai terlihat setelah BI menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 bps sejak Mei. 

Kondisi tersebut mulai memengaruhi keputusan dunia usaha. Output manufaktur mengalami kontraksi selama empat bulan berturut-turut, sementara perusahaan mengurangi pembelian bahan baku dan memangkas jumlah tenaga kerja pada laju tercepat dalam hampir lima tahun terakhir. Artinya, pelemahan tidak lagi sebatas sentimen, tetapi mulai tercermin pada aktivitas produksi dan pasar tenaga kerja.

Yang menjadi masalah, pelemahan permintaan justru terjadi ketika biaya produksi masih tinggi. Depresiasi rupiah mengerek harga bahan baku impor dan energi, sehingga inflasi biaya input mencapai level tertinggi kedua sejak survei PMI dimulai pada 2011.

Tak heran jika akhirnya produsen meneruskan kenaikan biaya tersebut ke konsumen lewat kenaikan harga jual di tingkat pabrik yang menjadi yang tertinggi sejak 2013. 

Samuel Sekuritas menilai, kondisi manufaktur masih akan berada di bawah tekanan dalam jangka pendek karena pelaku usaha menghadapi permintaan domestik yang lebih lemah, biaya input yang tinggi, serta pesanan ekspor yang terus menurun. 

"PMI manufaktur diperkirakan masih akan bertahan di bawah ambak ekspansi dalam satu hingga dua bulan ke depan," kata laporan Samuel Sekuritas. 

Cadangan Devisa

Surplus perdagangan menjadi sumber pasokan devisa yang dapat menopang stabilitas rupiah. Ketika surplus hilang, maka kemampuan ekonomi dalam menghasilkan aliran dolar AS secara alami juga ikut menurun.

Cadangan devisa RI tercatat berada di posisi US$144,9 miliar, setara dengan 5,5 bulan pembayaran impor dan pembayaran utang luar negeri. Setelah terpangkas sepanjang tahun 2026, dan menjadi posisi cadangan devisa terendah dalam dua tahun terakhir.

Cadangan devisa RI dari tahun ke tahun. (Bloomberg)

Sebagai catatan, utang luar negeri jatuh tempo Indonesia pada tahun ini senilai Rp833 triliun. Jika menggunakan kurs Jisdor Rp17.961/US$, maka utang RI yang harus dilunasi sepanjang tahun ini setara dengan US$46,38 miliar, sekitar 32% dari total cadangan devisa yang dimiliki saat ini.

Baru-baru ini, Fitch Ratings memperingatkan bahwa peringkat utang Indonesia berpotensi diturunkan jika cadangan devisa terus menyusut. Sebelumnya, Fitch telah menurunkan prospek peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif. 

Fitch memperkirakan cadangan devisa RI pada 2026 hanya mampu menutup sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal pemerintah, sedikit di bawah median negara-negara dengan peringkat BBB yang mencapai 5 bulan.

Arah Kebijakan Suku Bunga

Dengan terbatasnya cadangan devisa dan tingginya volatilitas rupiah, ruang intervensi BI menjadi kian sempit.

Setelah menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 100 bps secara bertahap hingga 5,75%. Sejumlah ekonom dan analis tetap memperkirakan BI akan kembali mengambil langkah hawkish untuk menjaga nilai tukar di tengah terbatasnya cadangan devisa.

Tamara Henderson, Ekonom Bloomberg Economics, memperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebanyak 50 bps secara bertahap, masing-masing 25 bps pada 22 Juli dan pada 19 Agustus. Sehingga, BI Rate berada di level 6,25%.

“Bahkan, kenaikan suku bunga tambahan pada kuartal IV masih mungkin diperlukan, bergantung pada respons kebijakan pemerintah,” sebut Henderson dalam catatannya.

(dsp)

No more pages