“Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat,” sebut Simon Aloysius Mantiri, Direktur Utama Pertamina, dalam keterangan resmi.
Seiring tensi yang mereda di Timur Tengah, di mana Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai titik temu negosiasi damai, harga minyak dunia berangsur turun. Dalam sebulan terakhir, harga minyak jenis brent sudah jatuh hampir 24%.
“Harga minyak dunia memang mundur teratur belakangan ini. Namun lonjakan sebelumnya tetap dirasakan di rantai pasok dunia. Dampaknya terasa di harga BBM Indonesia,” sebut Tamara Mast Henderson, Ekonom Bloomberg Intelligence.
Faktor lain yang juga menjadi penyebab inflasi adalah pelemahan nilai tukar rupiah. Bulan ini, rupiah sempat melemah hingga di atas Rp 18.000/US$.
“Pelemahan rupiah menyebabkan kenaikan biaya impor,” tambah Henderson.
Ke depan, Henderson memperkirakan laju inflasi domestik belum bisa terlalu dijinakkan. Kemungkinan inflasi akan melampaui target Bank Indonesia (BI) pada semester II-2026. Untuk tahun ini, target inflasi dipatok 1-5-3,5%.
Inflasi Bulanan
Meski harga Pertamax naik, tetapi inflasi Juni secara bulanan (month-to-month/mtm) sepertinya masih terkendali. Konsensus Bloomberg yang melibatkan 13 ekonom menghasilkan median proyeksi inflasi Juni sebesar 0,24% mtm.
Jika terwujud, maka malah lebih rendah ketimbang Mei yaitu 0,28% mtm.
Stabilitas harga pangan menjadi kunci terjaganya inflasi bulanan. Kenaikan harga Pertamax sepertinya tidak banyak berpengaruh, karena BBM jenis ini bukan spesialis untuk logistik dan distribusi.
Mengutip catatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga beras medium di hampir seluruh provinsi di Ibu Pertiwi stabil sepanjang Juni. Bahkan terjadi penurunan yang cukup drastis di Papua, mencapai 23,48%.
Hanya ada dua provinsi yang mengalami kenaikan harga beras medium yaitu Gorontalo (6%) dan Jawa Timur (6,76%).
Kemudian harga daging ayam ras juga stabil di hampir semua provinsi. Hanya di Papua yang mengalami kenaikan 4,56%.
Sedangkan di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Gorontalo, harga daging ayam ras malah turun masing-masing 13,92%, 13,17%, dan 2,63%.
Lalu untuk harga telur ayam ras, stabilitas juga terjadi di hampir semua provinsi yang dipantau. Malah ada penurunan di Jawa Timur (16,35%), Jawa Tengah (14,75%), Gorontalo (4,61%), dan Papua (1,36%).
Sementara untuk harga bawang merah, terpantau hanya satu provinsi yang mengalami kenaikan yakni Papua (9,89%). Harga bawang merah di mayoritas provinsi stabil, dan bahkan turun di Jawa Tengah (26,78%), Jawa Timur (21,8%), dan Gorontalo (4,39%).
Sedangkan harga cabai merah besar juga terlihat stabil di hampir semua provinsi. Justru ada penurunan di Jawa Timur (61,21%), Jawa Tengah (48,54%), dan Papua (27,48%).
Adapun harga cabai merah keriting juga stabil di kebanyakan provinsi pada bulan ini. Malah terjadi penurunan signifikan di Jawa Tengah (49,41%), Gorontalo (31,06%), dan Papua (19,91%).
(aji)




























