Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Jumat (26/6/2026).
- Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 11,12 poin
- Merdeka Gold Resources (EMAS) mengurangi 9,59 poin
- Bumi Resources Minerals (BRMS) mengurangi 7,09 poin
- DCI Indonesia (DCII) mengurangi 6,97 poin
- Barito Pacific (BRPT) mengurangi 6,5 poin
- Astra International (ASII) mengurangi 6,41 poin
- Merdeka Copper Gold (MDKA) mengurangi 5,54 poin
- Ekamas Mora Republik (MORA) mengurangi 4,95 poin
- Impack Pratama Industri (IMPC) mengurangi 4,41 poin
- Energi Mega Persada (ENRG) mengurangi 3,26 poin
Saham–saham LQ45 lainnya juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) drop 9,61%, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) terpeleset 6,54%, dan saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga melemah dengan kehilangan 6,13%.
Saham LQ45 potensial lainnya turut menjadi pemberat IHSG, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) drop 4,74%, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) melemah 4,62%, dan saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) juga terjebak di zona merah dengan drop 4,64%.
Analis Phintraco Sekuritas menyebut, IHSG ditutup melemah terimbas pelemahan yang terjadi di indeks bursa global. IHSG ditutup melemah di level 5.896 pada perdagangan Jumat.
“Sentimen negatif antara lain berasal dari melemahnya Bursa Asia dan Eropa akibat tekanan jual saham sektor teknologi di tengah meningkatnya kekhawatiran akan kenaikan biaya infrastruktur AI,” papar Phintraco, Jumat.
Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah level MA5, MA10 dan MA20. Histogram positif MACD mulai melemah dan Stochastic RSI memasuki area pivot.
Sehingga, lanjut riset tersebut, IHSG berpeluang menguji level 5.700–5.800 pada pekan depan. Investor akan menantikan sejumlah data ekonomi dari domestik, yaitu indeks manufaktur PMI, neraca perdagangan dan inflasi.
Sedang Panin Sekuritas memaparkan, rilis data inflasi relatif in–line di mana Personal Consumption Expenditure (PCE) naik 0,5% month–to–month; dengan kenaikan 4,1% year–on–year dengan inflasi inti PCE naik 0,3% mtm; dan kenaikan 3,4% yoy yang juga in–line dengan ekspektasi, namun ini adalah level inflasi inti tertinggi sejak Oktober 2023.
“Investor saat ini masih mencermati level nilai tukar rupiah yang kembali melemah hingga sempat menyentuh Rp18.000/US$. Selain itu, transaksi relatif sepi seiring dengan pasar yang sedang mengantisipasi melandainya IPO 6 emiten di bulan depan,” terang Panin.
(fad)

























