Sebagai informasi, perusahaan ini pernah dimiliki RANS sebelumnya sebelum dilepas pada 2023. Kini, dengan modal yang akan didapat dari investor publik, perseroan membelinya kembali. Manajemen RANS menyebut akuisisi ini sebagai bagian dari diversifikasi bisnis.
"Perseroan memutuskan untuk melakukan akuisisi kembali Slavina menggunakan sebagian dana hasil penawaran umum, guna mendukung pengembangan lini usaha dan diversifikasi sumber pendapatan perseroan," tulis manajemen RANS dalam prospektus, dikutip Jumat (26/6/2026).
Terkait akuisisi ini, perseroan berdalih tidak ada hubungan kepengurusan, kepemilikan, maupun kekeluargaan antara pihak penjual yakni Andy Lesmana dengan para pengurus dan pemegang saham RANS, sehingga tidak masuk kategori transaksi afiliasi maupun benturan kepentingan sebagaimana diatur dalam POJK No. 42/2020.
Namun demikian, perseroan justru secara terbuka mengakui pentingnya nama pasangan ini bagi keberlangsungan bisnis.
"Risiko utama yang dihadapi perseroan adalah risiko ketergantungan terhadap talent utama yaitu Raffi Ahmad dan Nagita Slavina beserta keluarga,” lanjut manajemen RANS.
Terkait rencana penggunaan dana tersebut, Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama menilai akuisisi ini dapat memengaruhi minat investor, terutama jika dikaitkan dengan aspek tata kelola dan transparansi transaksi.
Ia menjelaskan, pasar akan mencermati apakah transaksi ini benar-benar memiliki sinergi bisnis yang jelas, valuasi yang wajar, serta dilakukan melalui proses yang transparan.
Jika tidak, terdapat risiko munculnya persepsi bahwa transaksi lebih menguntungkan pihak tertentu atau bahkan menjadi semacam exit plan, yang pada akhirnya bisa menekan sentimen investor di fase awal pasca IPO.
“Menurut saya bisa memengaruhi minat investor, terutama dari sisi governance dan transparansi transaksi afiliasi,” kata Elandry lewat pesan singkat pada Kamis (25/6/2026).
Sementara itu, di luar akuisisi Slavina, dana IPO juga akan digunakan untuk rencana lainnya yakni sebesar Rp161,45 miliar untuk penyelenggaraan hingga 16 konser musik dalam dan luar negeri sampai 2028.
Kemudian, sebesar Rp80 miliar untuk pembangunan wahana edukatif anak bernama Cipungland di sembilan kota besar.
Lalu, sebesar Rp35 miliar untuk mendirikan perusahaan teknologi AI bersama PT Feedloop Global Teknologi, serta sekitar Rp30 miliar untuk melunasi sisa utang ke Bank BNI.
Elandry pun menilai prospek RANS pasca IPO masih menarik terutama dari sisi pertumbuhan, seiring penggunaan dana yang diarahkan untuk ekspansi bisnis lintas lini.
“Penggunaan dana IPO ini memperlihatkan adanya upaya memperluas sumber pendapatan melalui ekosistem entertainment dan lifestyle, mulai dari konser, wahana, hingga kosmetik. Ini menjadi bagian dari growth story yang cukup kuat,” ujar dia.
Namun demikian, ia menyebut bahwa pasar kemungkinan akan tetap mencermati eksekusi bisnis perseroan secara hati-hati, mengingat valuasi saat ini masih sangat bergantung pada kemampuan perusahaan menerjemahkan ekspansi menjadi kinerja keuangan yang konsisten.
“Pasar akan melihat seberapa cepat ekspansi ini bisa dikonversi menjadi pendapatan dan laba yang berkelanjutan. Jadi bukan hanya rencana ekspansi, tetapi eksekusinya yang akan menentukan,” kata Elandry.
Selain itu, perihal isu free float yang menjadi sorotan investor juga berpotensi memengaruhi dinamika perdagangan saham RANS ke depan, meski tidak berdampak langsung terhadap fundamental.
“Free float ini lebih ke faktor pasar, seperti likuiditas, price discovery, dan volatilitas setelah listing. Jadi valuasi RANS ke depan kemungkinan akan lebih sensitif terhadap sentimen dan persepsi investor terhadap monetisasi bisnisnya,” kata Elandry.
(cpa/naw)



























