Logo Bloomberg Technoz

Harga minyak, yang sebelumnya telah kembali ke level sebelum perang, langsung berbalik menguat setelah kabar tersebut. Minyak mentah Brent sempat menyentuh level tertinggi hari itu, mendekati US$76 per barel. Serangan pada Kamis terjadi setelah periode relatif tenang menyusul kesepakatan awal antara Washington dan Teheran yang membuka kembali jalur pelayaran tersebut dan mendorong peningkatan jumlah kapal yang melintas.

Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan masih terlalu dini untuk menyimpulkan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Dengan syarat identitasnya dirahasiakan karena membahas pembahasan internal, pejabat itu mengatakan AS sedang menyelidiki siapa pelakunya, termasuk kemungkinan apakah serangan itu diperintahkan oleh petinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) atau merupakan tindakan sepihak personel di tingkat bawah. Tidak ada laporan korban jiwa maupun pencemaran lingkungan akibat insiden tersebut.

Presiden Donald Trump tidak menyinggung insiden tersebut. Namun, dalam jamuan makan malam bersama para petani di Gedung Putih pada Kamis malam, ia mengatakan Iran akan segera membeli gandum dan kedelai dari AS.

"Proses itu akan segera dimulai. Nilainya juga akan sangat besar," kata Trump.

Apabila Iran mengakui bertanggung jawab atas insiden yang diklasifikasikan UKMTO sebagai serangan tersebut, hal itu berpotensi mengguncang kepercayaan rapuh para pemilik kapal dan awak kapal bahwa mereka dapat kembali melintasi koridor minyak itu dengan aman. Teheran berulang kali menyatakan kapal tidak dapat melintasi Selat Hormuz tanpa izinnya, dan sejumlah kapal tanker bahkan sempat berbalik arah pada hari yang sama setelah dilaporkan menerima peringatan dari Angkatan Laut Iran.

Otoritas Selat Teluk Persia Iran pada Kamis menyatakan bahwa setiap pelayaran yang menggunakan jalur di luar kerangka yang ditetapkannya tidak akan memperoleh perlindungan asuransi maupun jaminan keselamatan pelayaran.

Sejak kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran mulai berlaku pekan lalu, kapal-kapal berlomba meninggalkan Selat Hormuz, sehingga pasokan minyak mentah yang mengalir melalui jalur tersebut bertambah jutaan barel. Negara-negara produsen energi di kawasan Teluk juga mulai meningkatkan produksi seiring arus pelayaran yang tampak kembali normal.

Namun setelah serangan pada Kamis, International Maritime Organization (IMO), badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengumumkan penghentian sementara operasi evakuasi kapal di Selat Hormuz.

"Saya telah menerima laporan mengenai serangan hari ini di Teluk Oman terhadap sebuah kapal yang sebelumnya melintasi Selat Hormuz," kata Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, dalam sebuah pernyataan. "Kapal tersebut tidak melintas dalam kerangka evakuasi IMO. Saya selalu menegaskan bahwa keselamatan para pelaut merupakan prioritas utama. Oleh karena itu, untuk memastikan pendekatan yang terkoordinasi dan keselamatan navigasi, rencana evakuasi akan dihentikan sementara hingga terdapat kejelasan lebih lanjut."

Pada Selasa, IMO menyatakan telah memperoleh jaminan keamanan yang memungkinkan ratusan kapal keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz. Meski demikian, bahkan sebelum rencana IMO diumumkan, tanda-tanda meningkatnya lalu lintas pelayaran sebenarnya sudah mulai terlihat.

Dalam beberapa pekan terakhir, muncul dua jalur utama untuk keluar dari Selat Hormuz karena jalur normal di bagian tengah diduga telah dipasangi ranjau. Salah satu jalur berada di dekat wilayah Iran, sedangkan jalur lainnya mengikuti garis pantai Oman dan berada di bawah perlindungan Amerika Serikat.

Dua Kapal Supertanker

Beberapa jam sebelumnya, setidaknya tiga kapal niaga, termasuk dua kapal tanker super berukuran sangat besar, terlihat berbalik arah ketika berupaya keluar dari Selat Hormuz melalui jalur di sisi Oman. Perusahaan intelijen pelayaran Windward Maritime menyebut kapal-kapal tersebut berputar balik setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menginstruksikan mereka untuk kembali melalui komunikasi radio dan platform media sosial.

Namun, berdasarkan data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg, tidak semua kapal mengikuti langkah tersebut. Sejumlah kapal tetap melanjutkan pelayarannya keluar dari Selat Hormuz. Media Iran juga melaporkan bahwa Teheran kembali menegaskan kendalinya atas pelayaran yang melintasi selat tersebut.

Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz sempat meningkat pesat setelah kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran berlaku pekan lalu. Namun, sempat terjadi beberapa gangguan, termasuk ketika Iran pada akhir pekan lalu menyatakan jalur tersebut ditutup. Otoritas Selat Teluk Persia Iran juga telah menyatakan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz tanpa memperoleh persetujuan dari Teheran.

Selain tiga kapal yang berbalik arah saat hendak keluar, data pelacakan kapal juga menunjukkan satu kapal lain memutar balik setelah berlayar menuju Selat Hormuz dari Teluk Oman.

(bbn)

No more pages