Kebijakan ini menjadi jembatan penyelamat ekonomi bagi Teheran di tengah upaya kedua negara tersebut melanjutkan negosiasi menuju kesepakatan damai permanen.
Iran menyambut baik pelonggaran sanksi energi setelah bertahun-tahun menghadapi sanksi ekonomi, serta janji adanya dana rekonstruksi dan pembangunan.
Meski demikian, Teheran mengisyaratkan tidak akan melepaskan pengaruhnya atas Selat Hormuz apabila Israel terus melanjutkan operasi militernya di Lebanon.
Pasar global terus mencermati setiap sinyal kemajuan dalam perundingan AS-Iran. Harga minyak Brent acuan global diperdagangkan di kisaran US$77 per barel pada Senin seiring dengan meningkatnya ekspektasi pasokan minyak Iran akan membanjiri pasar dalam waktu dekat.
Iran sendiri telah meningkatkan ekspor minyak dalam beberapa hari terakhir setelah AS mencabut blokade laut yang sebelumnya menekan perekonomian Republik Islam tersebut.
Menurut data dari perusahaan analitik Vortexa dan perhitungan Bloomberg, sekitar 68 juta barel minyak mentah dan kondensat berada di laut per 22 Juni.
Setidaknya 80% dari volume ini tidak memiliki tujuan yang jelas dan karenanya dapat tersedia bagi para pembeli.
Baru-baru ini, Pertamina terpantau baru saja membeli delapan kiriman minyak mentah asal Afrika Barat, Brasil, AS, dan Azerbaijan melalui tender. Kargo crude tersebut akan dikirim pada Juli dan Agustus 2026.
Berdasarkan informasi dari para trader yang mengetahui hal ini, perusahaan migas pelat merah tersebut membeli masing-masing satu kontrak atau lot minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari AS, Mero dan Tupi dari Brasil, serta satu pengiriman minyak mentah Azerbaijan.
Selain itu, Pertamina dikabarkan membeli empat lot minyak mentah asal Afrika Barat, yang terdiri dari masing-masing satu kontrak Bonny Light dan Qua Iboe dari Nigeria, satu kontrak Zafiro dari Guinea Khatulistiwa, serta satu kontrak minyak mentah Coco dari Kongo.
Perusahaan pelat merah itu juga dilaporkan mengamankan satu pengiriman kondensat dari lapangan Cakerawala, di lepas pantai Teluk Thailand.
Berdasarkan data yang dikompilasi Bloomberg, tender tersebut merupakan pengadaan pertama Pertamina sejak awal Mei 2026, meski secara normal perseroan biasanya melakukan tender beberapa kali dalam sebulan.
Selain minyak mentah, Pertamina terpantau sedang mencari empat kargo avtur atau bahan bakar jet (jet fuel) dengan volume kumulatif sebanyak ~800.000 barel.
Pertamina juga sedang mencari empat kargo bahan bakar jet A-1 dengan volume masing-masing ~200.000 barel untuk pengiriman Juli dan akan dikirim dengan skema cost and freight (CFR) Jakarta
Empat kargo tersebut dicari untuk pengiriman pada 5—7 Juli, 10—12 Juli, 16—18 Juli, dan 22—24 Juli.
Batas waktu penawaran ditetapkan pada hari ini, Rabu (17/6/2026), sekitar pukul 11.30 WIB. Penawaran tersebut berlaku hingga besok, Kamis (18/6/2026) pukul 18.00 WIB.
Berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN) dan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas), komposisi impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari berbagai negara mitra, sehingga sumbernya terdiversifikasi.
Antara lain Nigeria sebesar 34,07 juta barel atau sekitar 25%, Angola sebesar 28,5 juta barel atau 21%, Arab Saudi sebesar 25,36 juta barel atau sekitar 19%, Brasil 9%, Australia 8%, serta sejumlah negara lainnya seperti Gabon, AS, dan Malaysia.
(azr/wdh)





























