Logo Bloomberg Technoz

Di tingkat Asia, indeks saham yang juga merah di antaranya adalah PSEI (Filipina), KOSDAQ (Korea Selatan), Hang Seng (Hong Kong), Straits Times (Singapura), dan KLCI (Malaysia), yang tertekan masing-masing 1,35%, 0,72%, 0,43%, 26%, dan 0,21%.

Adapun TW Weighted Index (Taiwan), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), NIKKEI 225 (Tokyo), CSI 300 (China), Topix (Jepang), Shanghai Composite (China), SENSEX (India), KOSPI (Korea Selatan), SETI (Thailand), dan Shenzhen Comp. (China), berhasil menguat masing-masing 2,84%, 1,77%, 1,76%, 1,55%, 1,35%, 0,8%, 0,66%, 0,41%, 0,21%, dan 0,13%.

Bursa saham Asia dan IHSG tersulut momentum pelemahan susutnya sebagian optimisme pasar yang sebelumnya membaik di tengah meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Namun kini tensi kembali meninggi.

Panin Sekuritas memaparkan, seiring dengan kembali memanasnya tensi di Timur Tengah antara AS–Iran hingga ditutupnya kembali Selat Hormuz, di mana kapal yang mencoba mendekati Selat Hormuz akan menghadapi risiko keamanan. 

“Iran menyatakan bahwa kapal tidak akan melewati Selat Hormuz jika tidak mendapatkan izin dan setiap kapal harus membayar asuransi,” terang Panin Sekuritas dalam catatan terbarunya.

Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali memburu aset safe haven seperti dolar AS dan emas. 

Seperti yang diwartakan Bloomberg News, dalam dengar pendapat dengan Fox News, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia telah menyampaikan langsung kepada para pemimpin Iran bahwa jika mereka menutup Selat Hormuz, maka “kalian bahkan tidak akan mendapatkannya kembali” dengan menggunakan kata-kata kasar.

Perang di Timur Tengah telah menghambat pasokan di regional yang menyumbang sepertiga produksi minyak dunia. Harga minyak masih berada di atas level sebelum perang.

(fad)

No more pages