Logo Bloomberg Technoz

Berikut 10 saham dengan angka net buy tertinggi yang paling jadi incaran oleh investor asing sepanjang perdagangan Kamis (18/6/2026):

  1. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp150,89 miliar
  2. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp106,91 miliar
  3. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp82,64 miliar
  4. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp48,29 miliar
  5. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp34,71 miliar
  6. PT Timah Tbk (TINS) Rp33,96 miliar
  7. PT Petrosea Tbk (PTRO) Rp13,61 miliar
  8. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) Rp12,57 miliar
  9. PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) Rp11,99 miliar
  10. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) Rp7,9 miliar

BI Rate Naik (lagi) Jadi 5,75%

Seperti diketahui, BI telah mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur bulanan periode Juni 2026. Gubernur Perry Warjiyo dan kolega memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basispoin (bps) menjadi 5,75%.

Keputusan ini merupakan hasil Rapat Dewan Gubernur bulanan Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada Rabu dan Kamis atau 17–18 Juni 2026.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan suku bunga deposit facility juga meningkat sebesar 25 bps menjadi 4,75%, dan suku bunga lending facility juga naik sebesar 25 bps menjadi 6,5%.

“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global,” papar Perry dalam Konferensi Pers Hasil RDG BI, Kamis (18/6/2026).

Perry menjelaskan kenaikan BI Rate juga merupakan langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus-minus 1% sesuai yang ditetapkan pemerintah.

Keputusan ini selaras dengan ramalan pasar. Konsensus yang dihelat oleh Bloomberg, 25 dari 40 ekonom/analis yang disurvei memperkirakan BI Rate akan naik menjadi 5,75%. Bahkan ada 2 ekonom/analis yang memprediksi ada kenaikan 50 bps menjadi 6%.

Namun, suara pasar tidak bulat, ada dissenting opinion. Sebanyak 13 orang di antaranya memperkirakan BI Rate berpeluang ditahan tetap di 5,5%.

Selanjutnya yang jadi perhatian pasar, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyebut, hasil keputusan RDG ini mencerminkan kewaspadaan BI akan volatilitas nilai tukar rupiah yang masih cukup tinggi. Namun, di tengah pengetatan ini kebijakan makroprudensial BI tetap berupaya untuk “pro-growth” dan mendukung pertumbuhan serta stabilitas perekonomian Indonesia.

Terlebih lagi, “Kenaikan suku bunga yang telah mencapai 100bps dalam 2 bulan berpotensi menekan sektor properti, otomotif, dan juga berdampak negatif bagi sektor perbankan, apabila berlangsung dalam waktu yang berkepanjangan,” tulis Mirae Asset dalam riset terbarunya, Kamis.

(fad)

No more pages