Logo Bloomberg Technoz

Kini, setelah kesepakatan resmi berlaku, sorotan tertuju pada perusahaan-perusahaan pelayaran global yang sebelumnya sempat menghentikan total operasional kapal mereka akibat blokade ketat yang diterapkan oleh militer AS maupun Iran. Trump sebelumnya sempat menyatakan bahwa penandatanganan baru akan dilakukan pada 19 Juni demi memberikan waktu bagi pembersihan ranjau laut di selat tersebut.

Di Washington, kesepakatan tersebut memicu kritik yang tidak biasa keras dari sejumlah sekutu Trump yang sebelumnya mendukung kampanye militernya terhadap Iran.

"Sejarah mengajarkan bahwa memberikan miliaran dolar kepada kaum fanatik teokratis yang ingin membunuh kita bukanlah ide yang baik," kata Senator Partai Republik dari Texas, Ted Cruz.

Bahkan Senator Lindsey Graham, salah satu sekutu terdekat Trump di Capitol Hill, mengatakan bahwa memorandum tersebut bukanlah sebuah kesepakatan final, melainkan kerangka kerja untuk mencapai kesepakatan.

Meski memuji upaya Trump untuk mencapai kesepakatan, Graham, senator Partai Republik dari South Carolina, mengakui ada "bagian-bagian yang tidak saya sukai" sambil meragukan bahwa presiden akan mampu mencapai kesepakatan yang benar-benar kuat terkait program nuklir Iran.

Di tengah menipisnya pasokan energi dari kawasan Teluk selama konflik yang berlangsung tiga bulan dan meningkatnya tekanan ekonomi global, Trump mengisyaratkan bahwa risiko krisis ekonomi besar menjadi salah satu alasan utama dirinya memutuskan menghentikan perang yang dimulai pada Februari lalu.

Trump, yang berada di Prancis untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Kelompok Tujuh (G7), mengatakan eskalasi militer lebih lanjut "bisa menyebabkan depresi ekonomi internasional."

Trump juga membela keputusan untuk tidak memasukkan program rudal balistik Iran dalam perjanjian, meski isu tersebut sebelumnya dijadikan alasan oleh pejabat Israel maupun Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio untuk membenarkan perang.

Pada Rabu, presiden mengatakan isu rudal akan dibahas bersama program nuklir Iran dalam perundingan berikutnya, meskipun Iran "tetap harus memiliki beberapa rudal karena negara lain juga memilikinya." Rubio sebelumnya berpendapat bahwa rudal dan drone Iran dapat menjadi pelindung bagi negara itu untuk mengembangkan senjata nuklir.

Trump juga membela program pembangunan senilai US$300 miliar untuk Iran yang tercantum dalam MoU. Ia kembali menegaskan bahwa tidak akan ada dana pemerintah AS yang terlibat dan Iran hanya akan memperoleh manfaat jika "berperilaku baik." Ia juga menambahkan bahwa militer AS akan kembali menyerang Iran apabila para pemimpinnya tidak mematuhi kesepakatan tersebut.

Namun, Trump mengindikasikan dirinya siap mencairkan miliaran dolar aset Iran yang selama ini dibekukan oleh AS, sesuatu yang sebelumnya selalu ia tolak. Kini, ia berargumen bahwa langkah tersebut penting untuk menjaga kepercayaan terhadap dolar AS. "Pada titik tertentu saya rasa kita harus mengembalikannya," ujarnya. "Jika tidak dikembalikan, tidak akan ada lagi yang mau berinvestasi dalam dolar."

Kesepakatan awal tersebut memberikan kelegaan bagi pasar energi global, dengan harga minyak Brent turun di bawah US$80 per barel pekan ini, meskipun sedikit memangkas penurunannya pada Rabu.

Di saat yang sama, MoU tersebut masih menyisakan sejumlah persoalan paling rumit, termasuk sengketa terkait stok uranium Iran yang diperkaya hingga tingkat tinggi, untuk dibahas dalam periode negosiasi lanjutan selama 60 hari. Pada Rabu di Prancis, Trump mengatakan ia tidak melihat 60 hari sebagai tenggat waktu yang "mutlak", "selama mereka berperilaku baik."

Perundingan tersebut kemungkinan akan berlangsung alot karena Trump menghadapi tekanan yang semakin besar dari sekutu-sekutunya di Partai Republik yang menilai ia telah memberikan terlalu banyak konsesi dan berpendapat bahwa militer AS seharusnya "menuntaskan pekerjaan."

"Saat ini Iran berada dalam posisi terlemah yang pernah mereka alami," kata Mike Pence, wakil presiden pada masa jabatan pertama Trump, kepada Bloomberg Government. "Kekhawatiran saya terhadap MoU ini, setelah kita melihat isinya, adalah tidak adanya penyebutan mengenai pembongkaran program senjata nuklir secara terverifikasi. Dokumen ini hanya mengulang janji yang selama ini juga telah disampaikan Iran bahwa mereka tidak memiliki program senjata nuklir."

Kesepakatan tersebut juga membawa risiko politik bagi Trump, yang selama bertahun-tahun menyebut perjanjian nuklir Iran tahun 2015 yang dinegosiasikan pada era Presiden Barack Obama sebagai "kesepakatan terburuk dalam sejarah" dan dianggapnya sebagai hadiah finansial besar bagi Teheran. Trump membatalkan perjanjian itu pada 2018 dan berjanji akan menghasilkan kesepakatan yang jauh lebih baik.

Namun, seiring munculnya rincian lebih lanjut mengenai cakupan kesepakatan baru ini, sejumlah anggota Partai Republik melontarkan kritik tajam dan mempertanyakan apakah perang terhadap Iran memang layak dilakukan.

"Sebelum perang, selat terbuka, Iran dihimpit sanksi, dan 13 anggota militer kita masih hidup," tulis Senator Bill Cassidy dari Louisiana di media sosial.

"Sekarang, 13 warga Amerika tewas, keluarga-keluarga harus membayar miliaran dolar lebih mahal untuk bahan bakar, sanksi akan dicabut, dan pengeboman telah dihentikan," kata Cassidy. "Ini adalah kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade."

Anggota Partai Republik lainnya mendesak agar tekanan terhadap Iran justru ditingkatkan. "Kita harus memperketat tekanan jika ingin mendapatkan konsesi yang diperlukan untuk mengamankan atau menghilangkan material nuklir tersebut," kata Senator Republik dari Indiana, Todd Young, pada Rabu.

MoU itu dijadwalkan ditandatangani secara resmi oleh Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf di Bürgenstock, Swiss, sebuah resor pegunungan yang menghadap Danau Lucerne.

Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memulai perang dengan membombardir Iran pada 28 Februari, dengan alasan bahwa langkah tersebut diperlukan untuk mencegah Republik Islam itu mengembangkan senjata nuklir.

Namun, perang tersebut belum mencapai tujuan awalnya. Meski serangan mereka menghantam militer dan ekonomi Iran, Republik Islam itu tetap bertahan, meskipun Trump sebelumnya mengatakan rakyat Iran akan mampu "mengambil alih" pemerintahan mereka.

Teheran juga menunjukkan bahwa mereka masih mampu mengancam kawasan dengan drone dan rudal, sekaligus menekan Gedung Putih untuk mencapai kesepakatan melalui penutupan efektif Selat Hormuz. Kenaikan harga di AS turut memengaruhi tingkat dukungan terhadap Trump dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang.

Pada intinya, kesepakatan sementara tersebut "menukar pembukaan kembali Selat Hormuz dengan keringanan ekonomi," kata para analis Bloomberg Economics, termasuk Dina Esfandiary dan Ziad Daoud. "Namun pertukarannya tidak seimbang: keuntungan bagi Teheran akan sangat besar dan bersifat baru. Sementara Washington hanya mendapatkan kembali sebagian manfaat yang sebenarnya sudah ada sebelum perang dimulai pada Februari."

(bbn)

No more pages