Terlihat dari data IPR April 2025 hanya terkontraksi 0,3%, sedangkan 2026 angkanya semakin dalam menjadi 3,7%. Padahal biasanya, HBKN seperti Lebaran kerap jadi mesin utama konsumsi nasional. Namun, tahun ini dorongannya ternyata tak cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan riil.
Kondisi tersebut konsisten dengan beberapa indikator lain yang sudah muncul sebelumnya. Seperti, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mulai menurun, adanya tekanan terhadap rupiah, serta munculnya sikap masyarakat yang lebih selektif dalam belanja barang non-esensial.
Misalnya saja, kelompok barang diskresioner seperti peralatan informasi dan komunikasi mencatat kontraksi 26,4% pada April. Sementara, kelompok sandang serta kelompok makanan, minuman dan tembakau terkontraksi masing-masing 7% dan 3,8%.
Proyeksi Semester Kedua
Namun, data IPR tak sepenuhnya suram. Kelompok suku cadang masih mencatat pertumbuhan 14,7% secara tahunan pada April, dan diproyeksikan akan tumbuh 16,6% pada Mei mendatang. Begitu juga dengan kelompok perlengkapan rumah tangga tumbuh 0,6% pada April, dan pada Mei diproyeksikan naik menjadi 1,8%.
Di sisi lain, optimisme pelaku usaha dalam tiga bulan ke depan diproyeksikan kembali pulih dengan capaian Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) April 2026 menjadi 138,3 dari posisi Maret 136,8.
Bahkan, pelaku usaha makin optimis dalam enam bulan ke depan. IEP enam bulan ke depan pada April mencatat 149,4 dari posisi sebelumnya 137,8 pada Maret. Artinya, pelaku usaha belum melihat angka konsumsi turun sebagai tren pelemahan. Selain itu, kondisi ini juga menandakan masih adanya keyakinan akan konsumsi domestik yang berpotensi kembali menguat pada semester II-2026.
Jika membandingkan optimisme pelaku usaha pada semester kedua tahun ini, angkanya hampir mirip dengan optimisme di tahun lalu. Pada April 2025, IEP 6 bulan ke depan tercatat 149,3, begitu juga dengan April 2026 di posisi 149,4.
Hal ini menggambarkan bahwa meskipun kondisi saat ini lebih lemah dibanding tahun lalu, namun keyakinan terhadap pemulihan di paruh kedua tahun 2026 masih terjaga.
Terlihat prakiraan penjualan eceran pada Mei 2026 yang menunjukkan kontraksi menyempit drastis menjadi hanya 0,9% secara bulanan dari kontraksi sebelumnya 11,6%. Perbaikan tersebut terjadi hampir di seluruh kelompok barang, terutama:
- Peralatan Informasi dan Komunikasi yang berbalik dari kontraksi 9,4% menjadi tumbuh 2,2% secara bulanan.
- Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya dari kontraksi 5,9% menjadi tumbuh 2% secara bulanan
- Sandang yang kembali tumbuh tipis 0,1% setelah terkontraksi 23,0% pada April.
Dengan kata lain, tekanan konsumsi yang terjadi pada April mulai menunjukkan tanda-tanda mereda seiring kembali normalnya aktivitas ekonomi dan adanya momentum hari besar keagamaan pada Mei.
Selain itu, di tengah kondisi rupiah yang tertekan selama periode April, pelaku usaha tak memperlihatkan adanya sinyal kepanikan inflasi jangka pendek. Terlihat dari data Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 3 bulan ke depan hanya naik 0,2 poin menjadi 175,8 dari posisi sebelumnya di Maret, 175,6.
Meski begitu, IEH 3 bulan ke depan yang relatif rendah juga menggambarkan bahwa tekanan inflasi impor dari kenaikan harga minyak dunia belum sepenuhnya diteruskan kepada konsumen, serta adanya pelemahan daya beli yang membatasi ruang kenaikan harga.
(red)



























