Pelemahan rupiah yang cenderung persisten ini telah memicu spekulasi dan tekanan terhadap Bank Indonesia untuk kembali mengambil langkah kebijakan yang lebih hawkish dengan menaikkan suku bunga acuan, setidaknya menjadi 5%. Sebab, intervensi yang dilakukan untuk stabilisasi belum terlihat mampu meredam volatilitas rupiah.
Fakhrul Fulvian Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia menilai kondisi saat ini bukan lagi semata-mata persoalan harga minyak atau arah suku bunga The Fed, melainkan mulai menyentuh persoalan yang lebih fundamental, yaitu kredibilitas jangkar kebijakan makroekonomi Indonesia.
“Dalam situasi seperti ini, bank sentral tidak hanya sedang mengelola inflasi. Bank sentral sedang mempertahankan policy anchor itu sendiri. Ketika pasar mulai mempertanyakan di mana terminal level rupiah, di mana inflation anchor, dan bagaimana koordinasi fiskal-moneter akan berjalan, maka biaya stabilisasi ke depan bisa menjadi jauh lebih mahal,” terang Fakhrul.
Fakhrul menilai risiko terbesar akan muncul ketika pasar mulai kehilangan keyakinan terhadap respons kebijakan yang dianggap terlalu lambat dibanding kecepatan tekanan eksternal. Dalam situasi seperti itu, volatilitas rupiah dapat meningkat jauh lebih tajam karena pelaku pasar cenderung melakukan repositioning secara agresif.
Menurut Lionel Priyadi Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, kenaikan BI Rate dibutuhkan untuk mengurangi distorsi suku bunga pada sektor perbankan.
Lionel menyebut tekanan depresiasi terhadap rupiah juga berpeluang berlanjut menuju rentang Rp17,650/US$ hingga Rp17,750/US$ hari ini. "Kami memperkirakan kenaikan BI Rate 25 basis poin (bps) menjadi 5% besok, akibat kuatnya tekanan depresiasi terhadap rupiah," sebut Lionel.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XI DPR RI, kemarin, Gubernur BI Perry Warjiyo sepertinya sudah berkirim sinyal adanya langkah hawkish yang akan ditempuh BI.
Ia mengatakan tekanan global yang meningkat membuat kebijakan moneter tidak lagi bisa sepenuhnya diarahkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi seperti tahun lalu.
“Kalau di 2025 monetary policy pada waktu prosperity and growth, maka dengan global seperti ini, monetary policy-nya tidak bisa lagi pro growth. Harus kembali kepada stability,” kata Perry.
Tingginya suku bunga AS, lonjakan yield US Treasury, hingga ketegangan geopolitik global mendorong penguatan dolar AS dan memicu pelarian modal dari negara berkembang. Menurut Perry, kondisi tersebut membuat BI harus lebih agresif menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan domestik, termasuk melalui kemungkinan penguatan kebijakan moneter.
Jika langkah hawkish tidak diambil, maka risiko yang dihadapi bukan hanya pelemahan rupiah yang akan berlanjut, tetapi juga meningkatnya tekanan pada pasar obligasi, likuiditas domestik.
Dalam situasi seperti saat ini, pasar mulai membaca adanya selisih yang makin tipis antara yield aset rupiah dengan risiko yang harus ditanggung investor.
“Kalau suku bunga dalam negeri tidak naik, ya outflow. Kalau tidak mau outflow, maka suku bunga domestik harus naik,” kata Perry.
--- dengan asistensi Mis Fransiska Dewi
(dsp/aji)































