Di sisi lain, pemerintah kali ini juga tetap ingin menjaga agar biaya utang tidak melonjak terlalu tinggi di tengah tekanan pasar. Pasalnya, hasil lelang sukuk 5 Mei lalu sudah menunjukkan kenaikan yield yang cukup tajam di hampir semua tenor.
Pada lelang sukuk sebelumnya, tenor pendek seperti seri SPN-S, yield naik ke kisaran 5,5% hingga 6,08%. Sementara tenor menengah dan panjang juga mengalami kenaikan signifikan. Seperti, PBS030 dimenangkan dengan yield 6,42%, PBS040 di 6,47%, PBS034 di 6,72%, PBS005 di 6,75%, dan PBS038 di 6,81%.
Kenaikan yield ini merupakan bentuk premi risiko yang diminta pelaku pasar. Artinya, investor bersedia membeli surat utang pemerintah Indonesia, tapi dengan harga yang lebih mahal dari sebelumnya.
Sepertinya pasar sudah melihat adanya peningkatan risiko makroekonomi, di tengah pelemahan rupiah yang konsisten sejak awal tahun, dan diperparah dengan perang AS-Iran pada Maret.
Sebagai catatan, rupiah telah menyentuh rekor terendahnya sepanjang sejarah di evel Rp17.656/US$ pada penutupan perdagangan kemarin. Hari ini, rupiah telah diperdagangkan di level Rp17.700-an/US$ di pasar luar negeri.
Di tengah tekanan eksternal yang belum mereda dan rupiah masih bergerak dekat level terlemahnya, investor kemungkinan tetap berhati-hati dalam menyerap lelang sukuk kali ini.
Kehadiran seri tenor pendek seperti SPNS13072026 dan SPNS23112026 kemungkinan akan tetap diminati pelaku pasar, lantaran fleksibilitasnya yang lebih membuat investor nyaman di tengah ketidakpastian saat ini.
Namun, sepertinya tenor panjang akan tetap menarik bagi investor asalkan yield yang ditawarkan lebih menarik dari sebelumnya. Meski, jika incoming bids alias penawaran pada tenor panjang kembali lemah, maka pemerintah sepertinya akan menyerap secara selektif seperti yang terjadi pada lelang sukuk 5 Mei lalu.
(dsp/aji)































