Berbeda dengan perusahaan surya lain yang sedang kesulitan, GCL bertujuan menguasai segmen hulu rantai pasokan baterai, di mana perusahaan dapat menyediakan bahan baku untuk membangun penyimpanan energi terbarukan yang bersifat intermiten seperti angin dan surya. Perusahaan mengatakan keputusan ini dibangun di atas kekuatan yang ada dalam material berbasis silikon.
Pergeseran strategis ini mencerminkan tantangan yang lebih luas di industri tenaga surya China, yang telah bergulat dengan kelebihan kapasitas yang parah setelah bertahun-tahun ekspansi pesat. Banyak produsen tenaga surya, yang terbebani oleh kerugian berkepanjangan, kini beralih ke baterai sebagai pendorong pertumbuhan baru, didorong oleh permintaan yang melonjak di dalam dan luar negeri.
GCL telah mengalami kerugian selama dua tahun berturut-turut, dengan kerugian bersih sebesar 2,87 miliar yuan (US$415 juta) pada 2025, menurut hasil yang dirilis pada Maret.
Para pesaingnya juga masih mencatatkan kerugian meski ada upaya konsolidasi dan diversifikasi operasional secara sektoral. Perusahaan-perusahaan besar seperti Longi Green Energy Technology Co, JA Solar Technology Co, Jinko Solar Co, Tongwei Co, dan Trina Solar Co, semuanya mengakhiri kuartal terakhir dengan kerugian.
Pihak berwenang China telah memanggil produsen baterai terkemuka di negara itu dua kali tahun ini, untuk memperingatkan agar tidak terjadi kelebihan kapasitas dan perang harga yang telah merugikan industri energi terbarukan lainnya.
GCL juga berencana mengembangkan anoda silikon-karbon, material baterai generasi berikutnya. Dengan memanfaatkan posisinya sebagai produsen gas silana terbesar di dunia dan peningkatan teknologi di pabrik-pabriknya di Leshan dan kota Xuzhou di China timur, perusahaan ini bertujuan untuk mengubah dirinya menjadi “platform material energi baru multi-produk yang mendunia,” bunyi pengajuan tersebut.
(bbn)




























