Aliran petrodolar telah memungkinkan pemerintah untuk kembali mengisi dana cadangan darurat dan menunda pemotongan pengeluaran non-prioritas.
Dampak positif dari lonjakan harga minyak akibat perang akan lebih besar jika bukan karena penguatan mata uang negara tersebut.
Rubel yang lebih kuat berarti penerimaan pajak dari minyak yang dihargai dalam dolar menjadi lebih rendah. Rubel menguat berkat suku bunga tinggi, pembatasan impor, dan peningkatan penjualan mata uang asing oleh eksportir negara tersebut akibat reli harga komoditas global.
Bulan ini, mata uang Rusia mencapai level tertinggi terhadap dolar AS sejak Februari 2023, artinya rubel yang lebih kuat dapat mengurangi keuntungan (windfall) minyak Kremlin di luar Mei.
Pendapatan bersih pemerintah dari sektor energi pada Mei juga akan bergantung pada seberapa besar subsidi yang akan dibayarkan untuk mendukung industri penyulingan minyak nasional dan pasokan bahan bakar dalam negeri.
Seiring lonjakan harga bahan bakar global akibat perang di Iran, pembayaran negara kepada perusahaan energi Rusia pada April saja mencapai 359 miliar rubel, atau sekitar US$4,8 miliar, angka tertinggi dalam lebih dari dua tahun.
(bbn)






























