Logo Bloomberg Technoz

Beberapa strain virus pada kelompok ini antara lain Sin Nombre Virus, Laguna Negra Virus, dan Andes Virus yang ditemukan dalam kasus kapal pesiar MV Hondius.

Tikus pembawa HPS biasanya hidup di habitat alam liar di benua Amerika, termasuk area pedesaan dan gudang penyimpanan. Gejala yang muncul pada pasien HPS umumnya berupa demam, nyeri badan, lemas, batuk, hingga sesak napas.

Masa inkubasi HPS berkisar antara satu hingga delapan minggu. Khusus untuk strain Andes Virus, masa inkubasi dapat mencapai hingga 42 hari. Tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) tipe HPS juga tergolong tinggi, mencapai sekitar 60%.

Sementara itu, tipe HFRS yang ditemukan di Indonesia memiliki karakteristik berbeda. Penyakit ini tersebar di kawasan Eropa dan Asia dan telah dilaporkan ditemukan pada manusia maupun tikus di Indonesia.

Beberapa strain HFRS di antaranya adalah Hantaan Virus, Puumala Virus, dan Seoul Virus. Kemenkes menyebut Seoul Virus menjadi salah satu strain yang ditemukan di Indonesia.

Hewan pembawa HFRS umumnya adalah Rattus norvegicus atau tikus got yang banyak ditemukan di kawasan perkotaan. Selain itu, terdapat pula mencit ladang bergaris yang hidup di area semi-alami dan pertanian di Eropa maupun Asia.

Gejala HFRS meliputi demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, hingga ikterik atau kondisi tubuh menguning akibat gangguan hati. Masa inkubasi penyakit ini relatif lebih singkat, yakni sekitar satu hingga dua minggu, dengan tingkat kematian berkisar 5% hingga 15%.

Kemenkes menegaskan meski kedua penyakit berasal dari kelompok Hantavirus, karakteristik penularan dan tingkat keparahannya berbeda. Pemerintah pun terus melakukan pemantauan dan pengawasan untuk mencegah potensi penyebaran kasus di Indonesia.

(dec/del)

No more pages