Logo Bloomberg Technoz

PBOC menetapkan kurs referensi yuan hari ini di 6,8487 per dolar AS, terkuat sejak Maret 2023. Namun, fixing tersebut masih lebih lemah dibandingkan estimasi rata-rata survei harian Bloomberg terhadap analis dan trader yang berada di 6,8097.

“Saya tidak melihat PBOC ingin mempertahankan yuan di level tertentu, khususnya terhadap dolar AS. Tren dolar masih cenderung bearish untuk beberapa kuartal ke depan dan kami masih memperkirakan USD/CNY bergerak di bawah level 6,80” ujar Fiona Lim, strategist Maybank, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Hingga April, yuan offshore mencatat skor positioning valuta asing (FX) Bloomberg Intelligence terendah di kawasan emerging market (EM) Asia. Kondisi ini mencerminkan rendahnya daya tarik aset tersebut untuk dimiliki berdasarkan metrik model Bloomberg Intelligence, seperti ditulis analis valas Chunyu Zhang dalam catatannya.

Sebaliknya, rupiah Indonesia justru membukukan skor tertinggi di kawasan, menunjukkan minat kepemilikan yang relatif lebih kuat dibanding mata uang Asia lainnya. Secara umum, seluruh mata uang Asia masih mencatat skor positioning positif, kecuali yuan offshore.

Meski demikian, menurut Zhang, performa mata uang Asia sepanjang April bergerak beragam. Won Korea Selatan tampil sebagai mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan, sedangkan rupiah Indonesia mencatat kinerja paling lemah dari sisi imbal hasil.

Penguatan yang terjadi di pasar valuta asing ikut menyengat aksi beli di pasar Surat Utang Negara (SUN). Semua tenor mencatat penurunan imbal hasil, bahkan tenor acuan 10 tahun mengalami penurunan imbal hasil 9,8 bps ke 6,63%.

Data yang dihimpun Bloomberg hingga 30 April, investor masih tercatat masuk ke pasar SUN domestik sebanyak US$263 juta, secara harian dan US$476,8 juta secara mingguan. 

(dsp/aji)

No more pages