Budi menjelaskan obesitas menjadi salah satu faktor utama pemicu penyakit tidak menular seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, hingga penyakit jantung yang berdampak pada meningkatnya risiko kematian dini.
Sebagai langkah pencegahan, Kementerian Kesehatan mendorong penerapan label nutrisi atau “Nutri Level” di pusat perbelanjaan dan jaringan kedai kopi. Program itu ditujukan untuk membantu masyarakat memahami kandungan gizi makanan dan minuman secara lebih mudah.
“Pemerintah lakukan, kita educate the market dengan labeling. Saya berharap nanti implementasinya segera. Ada mal yang mau mulai pakai,” ujar Budi.
Dia menjelaskan sistem Nutri Level nantinya akan menampilkan kategori nilai gizi dari level A hingga D. Produk yang lebih sehat dan rendah kalori akan memperoleh label lebih baik dibandingkan produk dengan kadar gula atau kalori tinggi.
“Ada beberapa coffee chain sudah mau. Di seluruh coffee shop-nya nanti mereka akan pasang label. Misalnya matcha coffee D, Americano A,” katanya.
Menurut Budi, pendekatan gaya hidup atau lifestyle menjadi strategi yang lebih efektif untuk mengubah perilaku masyarakat dibandingkan sekadar penegakan aturan. Pemerintah ingin membangun persepsi bahwa memilih makanan dan minuman sehat merupakan bagian dari tren positif di kalangan anak muda.
“Bahasa anak zaman sekarang itu FOMO, fear of missing out. Jadi orang akan lihat kalau minum matcha coffee itu tidak cool, tapi kalau minum Americano itu A, zero calorie, everybody lihat sangat cool, semua larinya ke sana,” ujar dia.
Budi menambahkan pemerintah tetap perlu mengatur konsumsi makanan dan minuman masyarakat, namun pendekatannya lebih mengedepankan edukasi dibandingkan enforcement atau penindakan langsung.
“Government need to regulate, tapi regulatenya instead of enforcement, saya sangat percaya kita lakukan edukasi,” kata Budi.
(dec)





























