Terakhir, akun Instagram Ngomongin Uang juga mengeluarkan pernyataan sikap bahwa tidak pernah menerima undangan, menghadiri pertemuan, maupun melakukan komunikasi, baik secara digital maupun tatap muka dengan Badan Komunikasi Pemerintah.
"Oleh karena itu, klaim di berbagai media yang menyatakan bahwa Ngomongin Uang digandeng ataupun menjadi mitra pemerintah adalah tidak benar," sebagaimana dikutip melalui akun Instagram @ngomonginuang.
Sebelumnya, Qodari memang mencatut nama dan menyatakan mulai merangkul media pemberitaan digital berbasis sosial media yang akrab disebut sebagai new media. Perlu diketahui, jenis media tersebut dulunya disebut sebagai homeless media karena dinilai tidak memiliki rumah tetap untuk publikasi, seperti situs web atau aplikasi.
Qodari menyebutkan bahwa mereka terdiri dari Folkative; Indozone; Dagelan; Indomusicgram; Infipop; Narasi; Muslimvlog; USS Feed; Bapak-Bapak ID; Menjadi Manusia; GNFI; Creativox; Kok Bisa?; Taubaters; Pandemic Talks; TaubaTers; Kawan Hawa; Folix; Ngomongin Uang; Big Alpha; Good States; Hai Dulu; Proud Project; Vebis; Unframe, Kumpul Leaders; CXO Media; Volix Media; How To Do Nothing; Geometry Media; Folks Diary; Dream; Melodi Alam, NKTSHI; Modestalk; Lead Media; Nalar TV; Mahasiswa dan Jakarta; dan North West.
Namun, dia mengatakan masih beberapa catatan dan isu terhadap new media tersebut. Salah satu aspek paling mendasar yang membedakan new media tersebut dengan media konvensional adalah aspek penyajian informasi yang berimbang (cover both sides).
Dia mengaku sudah melakukan diskusi di Bakom mengenai kemungkinan penerapan aspek penyajian informasi yang berimbang di new media. Bila tidak memungkinkan, pemerintah juga mengkaji beberapa metode yang bisa dipakai untuk menyampaikan informasi yang netral, salah satunya melalui verifikasi.
"Namun beberapa aspek yang lain sudah dipenuhi, misalnya ada perusahaannya, ada semacam redaksinya, ada alamatnya. Nah, ini membedakan antara new media dengan media sosial biasa. Kalau media sosial biasa tidak ada lembaganya, tidak ada alamatnya, dan bahkan anonim dan seterusnya," ujar Qodari.
"Jadi dengan kondisi tersebut, dengan realitas bahwa new media sudah punya pengikut yang cukup besar, mungkin bisa sampai 100 juta dengan views yang bisa mencapai angka miliaran, 4 sampai 5 miliar satu bulan, hemat kami yang terbaik adalah kita bisa engage agar membuat kualitas new media makin meningkat."
(dov/frg)




























