Pemerintah mulai menghentikan impor solar dengan angka setana atau cetane number (CN) 48. Sementara itu, impor solar berkualitas tinggi atau CN51 akan dihentikan pada semester II-2026.
Bahlil menerangkan langkah menghentikan impor solar itu berdasarkan kapasitas produksi domestik yang bakal naik setelah Refinery Development Masterplan Program (RDMP) di Kilang Balikpapan beroperasi.
Selain itu, Bahlil menambahkan bahwa kementeriannya bakal mengerek bauran solar dengan biodiesel sebesar 50% pada semester II-2026.
Selepas penerapan B50, Bahlil memperkirakan produksi solar domestik bakal surplus sekitar 4 juta ton nantinya.
"Pada 2026 kita tidak lagi melakukan impor solar C48, informasi ini bagus bagi kita, tetapi tidak bagus bagi importir," kata Bahlil di Kuliah Umum Media Indonesia, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Adapun, sebelumnya Pertamina dikabarkan sedang melakukan pengadaan atau tender BBM berupa dua kargo solar dengan sulfur 0,25% masing-masing sebesar 200.000 barel dan dua kargo bensin RON 98 masing-masing berukuran 35.000 barel.
Dalam dokumen tender yang dilihat Bloomberg, kargo solar atau diesel atau gasoil dengan kadar sulfur 0,25% tersebut untuk jadwal pengiriman 28—30 Maret 2026.
Satu kargo akan dikirim dengan basis cost and freight (CFR) ke Kilang Tuban, Jawa Timur dan kargo lainnya dengan basis CFR ke Indonesia Bulk Terminal (IBT) Pulau Laut, Kalimantan Selatan.
“Masing-masing kargo ~200.000 barel, satu dengan basis CFR Tuban dan kargo lainnya CFR IBT Pulau Laut. Batas akhir penawaran jam 10 pagi waktu Jakarta pada 9 Maret, berlaku sampai jam 6 sore keesokan harinya,” sebagaimana tertulis dalam laporan Bloomberg, Senin (9/3/2026).
(azr/wdh)































