Badan Statistik Vietnam juga menyoroti peningkatan defisit perdagangan negara Asia Tenggara ini pada April 2026 yang mencapai US$3,28 miliar, dibandingkan dengan defisit US$677 juta yang dilaporkan pada Maret lalu. Angka tersebut jauh lebih besar daripada perkiraan ekonom sebesar defisit US$400 juta.
Ekspor Vietnam melonjak 21% menjadi US$45,5 miliar pada April dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, melampaui perkiraan kenaikan sebesar 17%, demikian menurut badan statistik. Impor naik 32,5% menjadi US$48,8 miliar, lebih tinggi dari perkiraan sebesar 21,7%. Bahan baku, peralatan, dan suku cadang untuk produksi menyumbang sebagian besar dari total pengiriman masuk, menurut badan statistik.
Pada empat bulan pertama 2026, surplus perdagangan Vietnam dengan AS naik 24,4% secara tahunan, mencapai US$46,9 miliar. Defisit perdagangan Vietnam dengan China — mitra dagang terbesarnya — meningkat 33,4% secara tahunan menjadi US$46,4 miliar untuk periode yang sama.
Bank sentral memperkirakan inflasi dapat meningkat hingga 5,5% tahun ini, lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 4,5%, didorong oleh kenaikan harga bahan bakar yang menaikkan biaya transportasi, logistik, dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya.
Bank Negara Vietnam, yang memiliki tugas krusial untuk memastikan pemerintah dapat mencapai target pertumbuhan ambisius sebesar 10% tahun ini tanpa memicu overheating ekonomi, telah berjanji untuk mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar dong.
(bbn)




























