Logo Bloomberg Technoz

Dengan kembali menahan suku bunga, The Fed mengirim sinyal bahwa tekanan inflasi dan risiko global belum sepenuhnya reda.

Hal ini juga berdampak rupiah yang menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian sedang mengalami fase overshooting, yaitu kondisi di mana tekanan nilai tukar bergerak melampaui fundamental jangka pendek dan sedang dalam proses mencari titik keseimbangan baru.

Jika tekanan eksternal terus berlanjut dan sinyal dari otoritas belum sampai diterima pelaku pasar, maka pergerakan rupiah akan berada di rentang Rp17.300-Rp17.500/US$, setidaknya selama kuartal II-2026.

Apalagi, jika harga minyak tetap di atas US$110, permintaan dolar domestik tetap tinggi, dan investor masih berhati-hati terhadap aset negara berkembang.

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, di tengah kondisi serta terbatas. ini BI memang masih punya ruang untuk menahan volatilitas rupiah, tapi efeknya hanya sementara dan terbatas. 

"Penguatan rupiah yang lebih berkelanjutan membutuhkan bantuan pemerintah melalui disiplin fiskal, pengelolaan subsidi energi, penguatan pasokan valas, dan komunikasi kebijakan yang meyakinkan pasar," katanya. 

Senada, Fakhrul menekankan pentingnya upaya penyesuaian anggaran, termasuk di antaranya program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan melakukan upaya itu, artinya pemerintah sedang mengirim sinyal positif bagi pasar. 

Ia juga menegaskan bahwa pasar saat ini membutuhkan kejelasan terkait target fiskal dan strategi pembiayaan, terutama dalam konteks potensi tekanan dari harga energi dan kebutuhan belanja domestik.

“Kepastian target APBN menjadi kunci. Pasar harus melihat bahwa pemerintah memiliki ruang dan fleksibilitas untuk melakukan penyesuaian tanpa mengorbankan disiplin fiskal. Ini akan menjadi jangkar utama kepercayaan investor," tandas Fakhrul. 

(dsp/aji)

No more pages