Sebaliknya, baht Thailand, dan ringgit Malaysia berada di zona merah dan melemah 0,21%.
Dari dalam negeri, tekanan kenaikan harga minyak makin kuat karena Indonesia dipersepsikan sebagai negara pengimpor minyak.
"Sehingga setiap kenaikan minyak langsung dibaca pasar sebagai risiko terhadap neraca perdagangan, subsidi energi, inflasi, dan kebutuhan valas," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Menurut Josua, faktor dominan membebani rupiah adalah meningkatnya kebutuhan dolar di dalam negeri, terutama untuk pembayaran impor, repatriasi dividen, dan antisipasi biaya pengiriman yang lebih mahal.
"Permintaan dolar musiman, serta ada kekhawatiran investor terhadap dampak kenaikan minyak ke subsidi energi dan kondisi fiskal," katanya.
Kemarin, rupiah di pasar spot sempat menyentuh level terendah sepanjang masa di Rp17.330/US$ pada pukul 11:03 WIB.
Pelaku pasar juga banyak melepas obligasi dan mengalami kenaikan imbal hasil (yield) di hampir merata di semua tenor.
Imbal hasil tenor 1 tahun telah kembali menyentuh 6% naik 9,9 bps, tenor 2 tahun naik 3 bps ke 6,16%. Begitu juga dengan tenor 5 tahun imbal hasil terkerek 9,9 bps menjadi 6,74%, dan tenor 6 tahun 4,9 bps ke 6,72%.
Tenor acuan 10 tahun juga tak luput dari aksi jual dengan kenaikan imbal hasil 4,4 bps ke 6,83%. Di tengah akrobat blokade selat yang membuat sentimen risk-off tambah nyaring, pergerakan SUN kian sensitif.
Josua menilai, katalis penguatan perlu datang dari arus masuk asing yang lebih besar ke SBN dan SRBI, komunikasi fiskal yang kredibel, kepastian bahwa subsidi energi terkendali, serta masuknya devisa hasil ekspor ke sistem keuangan domestik.
Tanpa kombinasi itu, rebound rupiah kemungkinan hanya bersifat teknis dan mudah berbalik.
Di tengah kondisi tersebut pergerakan rupiah jadi semakin terbatas. Hari ini pergerakan rupiah berada di rentang terbatas dengan bias pelemahan di Rp17.250-17.350/US$.
(riset/aji)

























