Sebelumnya pada Selasa, Trump mengungkapkan melalui Truth Social bahwa Iran telah meminta AS mencabut blokade laut saat kedua pihak menegosiasikan pengakhiran perang. Teheran disebut ingin jalur air kritis tersebut dibuka "sesegera mungkin" di tengah upaya mereka membenahi situasi kepemimpinan internal. Iran, menurut klaim Trump, saat ini berada dalam "kondisi runtuh."
Iran memberi sinyal kesediaan menerima kesepakatan sementara untuk membuka kembali selat tersebut, dengan imbalan penghentian blokade pelabuhan oleh Washington. Namun, Teheran ingin menunda negosiasi nuklir yang lebih kompleks dan bersikeras mempertahankan kendali atas pelayaran di selat—poin yang kemungkinan besar akan ditolak oleh Washington.
Trump dilaporkan menolak tawaran tersebut dan menyatakan kepada para penasihatnya bahwa proposal itu menunjukkan Iran tidak bernegosiasi dengan niat baik, demikian dilaporkan Wall Street Journal. Mediator di Pakistan memperkirakan Iran akan menyerahkan revisi proposal damai dalam beberapa hari ke depan, lapor CNN pada selasa, mengutip sumber yang dekat dengan proses mediasi.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent naik untuk sesi ketujuh berturut-turut hingga ditutup di atas US$111 per barel. Pasar semakin khawatir bahwa proses perdamaian yang berlarut-larut akan membuat Selat Hormuz tertutup tanpa batas waktu yang jelas.
Dampak lanjutan perang ini kian terasa saat Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan pengunduran dirinya dari OPEC pada Selasa. Langkah ini menjadi pukulan telak bagi kartel minyak tersebut dan pemimpinnya, Arab Saudi. UEA, yang memiliki kapasitas produksi melampaui kuota OPEC, telah lama merasa terbatasi oleh aturan kelompok tersebut.
"Keputusan ini diambil pada waktu yang tepat menurut pandangan kami karena tidak akan berdampak besar pada pasar; pasar saat ini sedang kekurangan pasokan," ujar Menteri Energi UEA, Suhail Al Mazrouei. Abu Dhabi meyakini bahwa kelangkaan akibat perang memerlukan fleksibilitas untuk merespons permintaan pasar.
Kedua pihak yang bertikai memulai gencatan senjata sekitar 7 April, dan permusuhan dapat kembali meningkat jika mereka gagal mencapai kesepakatan baru, setelah putaran pertama pembicaraan di Pakistan pada pertengahan April berakhir tanpa hasil.
Tawaran Iran untuk mengakhiri perang “lebih baik dari yang kami perkirakan,” kata Menteri Luar Negeri Marco Rubio kepada Fox News. Namun, Gedung Putih masih memiliki “pertanyaan apakah pihak yang mengajukan proposal itu memiliki kewenangan,” ujarnya, mengulang klaim sebelumnya bahwa para pemimpin Iran terpecah dalam strategi negosiasi mereka.
Selat Hormuz yang strategis, yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia sebelum konflik dimulai, kini tetap dalam kondisi hampir lumpuh total.
Para pemimpin dunia semakin frustrasi terhadap kebuntuan diplomatik dan penutupan jalur pelayaran tersebut, yang telah menyebabkan pembatasan bahan bakar di sebagian besar Asia dan Afrika serta memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi global.
(bbn)





























