Investor masih cemas terhadap situasi di Timur Tengah. Memang ada kabar yang melegakan, yaitu Iran dikabarkan bersedia membuka kembali Selat Hormuz. Dengan syarat, Amerika Serikat (AS) mengakhiri blokade mereka di wilayah perairan Negeri Persia.
Sedangkan Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa Teheran sudah meminta Washington untuk mencabut blokade tersebut. Namun Iran masih meminta sebagian kendali atas pelayaran di Selat Hormuz, sesuatu yang mungkin belum bisa diterima AS.
Hal ini membuat harga minyak masih menanjak. Kemarin, harga minyak jenis brent melesat 2,8% ke US$ 111,26/barel.
“Jika kenaikan harga minyak terus berlanjut, maka pelaku pasar mungkin saja mempertimbangkan akan ada kenaikan suku bunga acuan. Apabila itu terjadi, maka bisa saja harga emas jatuh hingga ke level US$ 4.500/troy ons,” sebut Commerzbank AG dalam catatannya.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas akan terasa kurang menguntungkan saat suku bunga betul-betul naik.
(aji)






























