Sementara laba operasional juga melemah 15,5% menjadi Rp725 miliar pada kuartal I-2026 dari kuartal sebelumnya Rp858 miliar.
Penurunan ini sejalan dengan koreksi margin yang mulai terjadi setelah mencapai level tinggi pada akhir 2025.
“Penurunan secara kuartalan mencerminkan tekanan volume yang tidak sepenuhnya terkompensasi oleh kenaikan harga jual rata-rata (ASP),” tulis MG lewat riset dikutip Rabu (29/4/2026).
Sementara itu, lanjut MG, pertumbuhan secara tahunan relatif ditopang basis rendah tahun sebelumnya dan kenaikan musiman ASP yang umumnya berlangsung pada kuartal pertama.
“Pertumbuhan YoY masih ditopang oleh basis rendah tahun sebelumnya dan kenaikan musiman ASP yang umumnya berlangsung pada kuartal pertama” tulis MG.
Margin laba kotor (gross profit margin/GPM) tercatat sebesar 15,5% pada kuartal I-2026, turun dari 20,9% pada kuartal IV-2025.
Sementara itu, margin laba operasional (OPM) kuartal I-2026 turun menjadi 9,7% dari kuartal sebelumnya sebesar 13,1%. Adapun, margin laba bersih susut ke level 5% dari kuartal sebelumnya 6,1%.
“Koreksi margin ini mengindikasikan bahwa peak profitability telah terlewati, seiring normalisasi harga CPO dan potensi tekanan biaya,” kata dia.
Meski demikian, margin masih menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya secara tahunan.
Di sisi lain, segmen minyak sawit mentah dan turunannya tetap menjadi penopang utama kinerja, dengan kontribusi pendapatan sebesar Rp6,73 triliun.
Namun, indikasi oversupply di pasar CPO pada awal tahun turut memberikan tekanan terhadap harga dan margin perseroan.
“Pendapatan dari minyak sawit mentah dan turunannya mencapai Rp6,7 triliun (+18.3% QoQ, +6.0% YoY), menjadi driver utama pertumbuhan kuartalan,” tulis MG.
Meski demikian, MG melihat adanya potensi dukungan dari kenaikan harga energi global, yang dapat mendorong permintaan biodiesel dan memberikan sentimen positif terhadap harga CPO dalam jangka menengah.
Risiko Solar
Sebelumnya, AALI mengungkapkan tekanan signifikan pada struktur biaya operasional perusahaan akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Gangguan pelayaran minyak mentah dan LPG di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga bahan bakar dan pupuk yang berdampak langsung pada biaya produksi emiten sawit Grup Astra ini.
Presiden Direktur Astra Agro Lestari, Djap Tet Fa, memaparkan bahwa volatilitas harga minyak dunia yang bergerak layaknya roller coaster telah mengerek harga solar non-subsidi hingga hampir dua kali lipat dalam waktu singkat.
"Peningkatan energi itu juga kita rasakan. Solar non-subsidi itu sudah meningkat, bahkan sampai bulan April ini peningkatan sudah hampir 90% dari sebelumnya. Biasanya Rp14.000—Rp15.000, sekarang mungkin sudah hampir Rp25.000 [per liter]," ujar Tet Fa dalam paparan publik perseroan, Rabu (15/4/2026).
Menurut Tet Fa, lonjakan ini merupakan realitas yang tidak dapat dihindari bagi pelaku industri komoditas global. Namun, tantangan tidak berhenti pada harga bahan bakar semata.
Tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel juga memberikan efek domino pada harga pupuk berbahan dasar urea dan amonia, serta kenaikan biaya logistik akibat tarif angkut yang membengkak.
“Pupuk juga meningkat, karena pupuk itu kan urea dan amonia juga tergantung dengan gas dan minyak,” kata Tet Fa.
Guna memitigasi risiko pembengkakan biaya produksi lebih lanjut di masa depan, AALI merespons dengan mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (Capex) yang agresif pada tahun ini.
Perseroan menganggarkan Capex sebesar Rp1,4 triliun untuk tahun 2026. Angka ini melonjak signifikan sebesar 79% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan realisasi tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp782 miliar.
Manajemen merinci, mayoritas dana tersebut atau sekitar 63,8% akan dialokasikan untuk sektor perkebunan (plantation), termasuk agenda penanaman kembali (replanting).
Langkah ini diambil untuk memastikan produktivitas tanaman tetap optimal di tengah beban input produksi yang mahal.
"Capex tahun 2026 mayoritas dialokasikan untuk plantation sebesar 63,8%. Lalu untuk mill (pabrik) dan port sebesar 19,8%, serta sektor non-plantation untuk pengadaan kendaraan angkut dan aset pendukung lainnya sebesar 16,4%," jelas manajemen.
(naw)





























