Logo Bloomberg Technoz

Melemahnya IHSG merupakan efek langsung dari dropnya sejumlah saham big caps. Hingga diperberat oleh tertekannya harga saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang amblas 5%, dan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang turun 2,14%. Hingga saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) turun 2%.

Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Selasa (28/4/2026)

  1. Amman Mineral Internasional (AMMN) mengurangi 8,39 poin
  2. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 7,08 poin
  3. Chandra Asri Pacific (TPIA) mengurangi 4,15 poin
  4. Astra International (ASII) mengurangi 4 poin
  5. Bayan Resources (BYAN) mengurangi 3,99 poin
  6. Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) mengurangi 3,07 poin
  7. Pacific Strategic Financial (APIC) mengurangi 2,66 poin
  8. Merdeka Gold Resources (EMAS) mengurangi 2,07 poin
  9. Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) mengurangi 1,95 poin
  10. Alamtri Resources Indonesia (ADRO) mengurangi 1,89 poin

Adapun saham–saham unggulan LQ45 lainnya juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT XLSmart Tbk (EXCL) jatuh 3,51%, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) melemah 3,01%, dan saham PT Indosat Tbk (ISAT) juga terpangkas 2,99%.

Disusul oleh pelemahan saham PT Hermina Tbk (HEAL) yang drop 2,51%, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) melemah 2,38%, dan saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turun 2,31%. Melansir Phintraco Sekuritas, IHSG ditutup melemah di tengah minimnya faktor positif baru yang cukup kuat. 

Mayoritas Bursa Asia juga ditutup melemah, di tengah ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan proposal Iran untuk membuka Selat Hormuz, dengan syarat AS mencabut blokade dan menyudahi konflik, namun belum jelas bagaimana keputusan Trump terhadap proposal Iran tersebut. 

Secara teknikal, pembentukan histogram negatif MACD IHSG berlanjut dan Stochastic RSI memasuki area oversold. IHSG sempat mendekati gap down di 7.022, sebelum ditutup di 7.072. 

“Diperkirakan IHSG masih akan cenderung bergerak sideways di kisaran 7.000–7.200," jelas riset Phintraco Sekuritas dalam catatan terbarunya.

Sementara itu, Phillip Sekuritas Indonesia menyebut, harga minyak mentah kembali menguat cukup tajam, hampir 3% karena upaya diplomatik untuk menyudahi perang AS–Iran tampaknya kembali menemui jalan buntu.

Di tengah gencatan senjata yang rapuh antara AS dan iran, Selat Hormuz secara efektif masih tertutup, menimbulkan kecemasan pasar bagi ekonomi Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah.

“Presiden AS Donald Trump tidak puas dengan proposal terbaru Iran tentang penyelesaian perang yang telah berlangsung selama dua bulan, sehingga meredam harapan akan penyelesaian konflik yang telah mengganggu pasokan energi, memicu inflasi, dan menewaskan ribuan orang,” sebut Phillip Sekuritas.

Usulan terbaru Iran akan menunda pembahasan program pengembangan nuklir Iran hingga perang selesai dan perselisihan mengenai pengiriman barang dari Teluk Persia diselesaikan.

“Hal itu kemungkinan besar tidak akan memuaskan AS, yang teguh bahwa masalah nuklir Iran harus ditangani sejak awal,” terang Phillip.

(fad/wep)

No more pages